Surat Untuk Sahabat yang Segera Melangkah Ke Pelaminan

Posted in: Travel

ucapan pernikahan

Dec 26, 2017 at 4:16 PM

Kepada Sahabatku, Saudaraku, penjaga rahasia-rahasiaku, dan peredam rasa cemasku,

Di tengah kesibukanmu menentukan bunga penghias pelaminan dan bahan kebaya, kuharap kau punya saat untuk berhenti sejenak dan membaca. Mungkin kau sedikit terperanjat melihat suratku. Betapa ini adalah perihal luar biasa, kita yang biasa berjumpa tiap tiap hari kini wajib mengungkapkan perasaan melalui surat yang tercantum rapi.

“Bukankah kamu tinggal menggedor pintu kamarku saja, kalau memang menghendaki bicara?”, mungkin begitu pikirmu.

Tapi semenjak hari mengikat janjimu terlaksana, semua tak dapat ulang sama. Surat ini kumaksudkan sebagai pengantar, sebelum saat anda memasuki pintu gerbang kehidupan yang makin lama membuatmu wajib banyak bersabar. Selamat merintis hidup baru, Sayang. Doa untukmu tak penat kukirimkan berasal dari balik lingkar kepala.

Tahukah kau, saat pertama kali kita berkenalan, kau seperti saudaraku yang udah lama hilang.

 
Rasanya baru kemarin aku berkenalan denganmu. Kau yang tersedia satu diantara ribuan orang, tiba-tiba saja berkunjung menawariku minuman yang berikan kesegaran tenggorokan. Peluh yang udah bercucuran dapat kau sembuhkan dengan beberapa teguk air segar. Ah, kau ini tahu saja saat itu aku udah amat kehausan. Senyum ramahmu seolah memberiku peluang, kita dapat jadi teman. Bahagianya, seperti menemukan saudara yang udah lama hilang berasal dari kehidupan.

Kita bukan pinang dibelah dua, tetapi kita seperti roda yang tersedia di dalam satu rakitan sepeda. Begitulah caramu isikan hidupku jadi lebih seimbang.

Waktu demi saat kita tumbuh dengan jadi seorang manusia. Memulai persahabatan denganmu seperti meramu jamu. Terkadang aku wajib merelakan lentik tangan terganti warna kuning kunyit yang wajib ikhlas kubiarkan berminggu-minggu bertengger di tanganku. Namun segala lelucon dan masukanmu membuatku tahu bahwa tersedia akhir baik yang sedang kita tuju.

Bahagia dan duka bukan ulang jadi rahasia. Bagi kita, semuanya seperti roti yang dibelah dua, potongan yang kita bagi dengan mulai lebih renyah saat dinikmati berdua.

Menguntai hidup dengan jadi sahabatmu membuatku tidak curiga untuk berbagi segala hal yang berlangsung di dalam kompas kehidupanku. Ingatkah kau saat aku pertama jatuh cinta? Aku tak sesudah itu pulang untuk menceritakan kepada papa dan bunda. Tapi aku tahu kemana aku wajib melaju, mengarahkan setang kendaraanku untuk menuju tempatmu. Kaulah yang jadi saksi mata pertama betapa gilanya aku saat sedang merindu.

Karena rasa suka mulai lebih sedap saat aku dapat melahapnya dengan dengamu.

Ingatkah kau saat aku sedang patah hati gara-gara ditinggal pergi? Cinta yang kuimpikan tidak ulang bersemi. Aku tidak bingung kala melacak tangan yang dapat membagiku untuk berdiri tegak. Aku mempunyai tempat di mana aku tidak dapat malu untuk menangisi hal-hal yang lugu. Aku tidak ulang pura-pura tegar untuk mencegah beban. Karena di hadapanmu, aku tidak mulai wajib menutupi sesuatu.

Walau kau kerap kuributi dengan kegalauanku yang tak tersedia habisnya, rasanya telingamu selalu terbuka untuk menerima cerita.

Rasa pahitnya hidup mulai lebih nyaman untuk dicerna saat tersedia kau yang selalu mengingatkanku.

Kau adalah rumah yang tidak pernah membuatku curiga untuk berkunjung sewaktu-waktu. Meski kau seringkali penat mendengar ceritaku, tetapi nyatanya kaulah orang yang tahu bagaimana aku.

Pagi, siang, malam bukan ulang jadi batasan saat untuk mengetuk pintu kamarmu.  Hal-hal ambigu tidak ulang berlaku. Tengah malam tak menyurutkan niatku untuk menggangu tidurmu dengan curhatanku yang wajib kulontarkan. Sampai-sampai beberapa kali aku juga harus meminjam bajumu.

Apapun itu, bukankah kau yang paling tahu aku? Uang jajan yang cuma tinggal lima ribu, mata kuliah yang wajib kuulang, sampai kegalauanku soal cinta yang tidak pernah tersedia jalan keluarnya.

Bila aku ditanya Tuhan, “Siapa yang dapat kau ajak ikut serta, terkecuali kau masuk surga?”. Aku tidak curiga untuk menjawab terkecuali orang itu adalah kau.

Seperti bagian yang tidak pernah alpa untuk diceritakan di dalam sejarah. Cerita hidupmu jadi ceritaku juga. Begitupun sebaliknya. Meski sesekali kau penat mendengar celotehanku yang tidak tersedia habisnya. Kau selalu saja tidak pernah jemu untuk terhubung telinga.

Tapi ketahuilah, nyatanya kamulah orang yang tahu seluk beluk bagaimana aku sebenarnya.

Kita berdua tahu, menikah adalah hal yang kau tunggu-tunggu. Hingga tiba saatnya kabar suka itu sampai di telingaku, akulah orang yang paling tersentuh. Rasanya, bahagiaku tak ulang terukur.

Persahabatan kita sebetulnya tidak sepi masalah. Sesekali aku mendapatimu jengkel gara-gara aku lupa mengembalikan buku catatanmu. Kita juga pernah saling diam beberapa saat gara-gara aku sibuk dengan urusan cintaku.

Ah, hidup berdampingan denganmu seperti makan coklat, sesekali lidah kita mendapati rasa pahit disela-sela kunyahan. Tapi itu bukan masalah, gara-gara kita selalu mempunyai cara untuk menemukan hal yang dapat ditertawakan.

Aku ingat betul pagi itu saat kau menggedor pintu kamarku. Tanpa banyak berbicara kau berdiri di depan sana dengan muka yang merona sambil menunjukan cinci di jari manismu.

“Aku udah dilamar”.

Kejutan terindah udah tersedia didepan mata. Kita berdua sama-sama seperti tetap tidak percaya. Wajahmu yang ceria dengan genangan air mata gembira membuatku mulai girang.  Sungguh, akulah orang pertama yang suka saat orang yang selama ini kau impikan akhirnya berkunjung menawarkan cinta.

Pelukan kita adalah wujud kata kehidupan yang kita bagi bersama.

Hatiku jadi penuh syukur yang bertumpuk-tumpuk. Doa yang aku panjatkan tidak ulang sesederhana anda lancar di dalam mengerjakan ujian, tetapi tentang kau dapat jadi orang yang lebih baru.

Melihatmu suka di pelaminan menibulkan pertanyaan. Masihkah kelak pundakmu dengan ringan dapat kutemukan?

Saat kau jadi raja dan ratu seharian, memandangmu udah berdampingkan membuatku haru berkesudahan. Bercampur bahagia, aku kadang berfikir ulang.  Benarkah itu kau, yang pernah saban hari risau soal pasangan? Benarkah itu kau yang pernah pernah tersedu-sedu gara-gara kisah cintamu yang kerap menyebabkan ragu?

Entah kenapa, cerita tentang persahabatan kita terputar ulang di sana. Kau yang melucu saat aku sedang perlu dihibur, kau yang selalu menawarkan makan kala aku lapar, kau yang tak pernah protes saat kasurmu berantakan gara-gara ulahku yang tak dapat diam. Entah apa yang aku peduli sekarang, tiba-tiba saja semua jadi teramat melankolis saat dirasakan.

Jujur, tersedia rasa yang tidak dapat kuterjemahkan. Aku jadi bertanya-tanya apakah aku tetap dapat masuk kamarmu sembarangan?

Meskipun aku tidak ulang dapat masuk kamarmu, aku menghendaki kau tahu aku tetap leluasa untuk berdoa tetang kebahagiaanmu.

Bersahabat denganmu membuatku jadi tahu, rasa sayang bukan hanya soal mata yang saling menatap, tetapi juga hati yang tak pernah berhenti mendoakan.

Saat kau didekap pasanganmu, aku sungguh terharu betapa bahagianya kalian yang dapat selalu jadi satu. Tapi akankah kau selalu membagi cerita hidupmu padaku seperti dulu?

Hingga hari ini, aku kadang tetap menghendaki tahu bagaimana hidupmu? Bagaimana perasaanmu saat wajib seranjang dengan lawan jenis? Apa yang berlangsung saat kau hadapi ibu mertua pertama kali? Apakah kehidupan kalian seperti yang kau harapkan? Bagaimana rasanya berkeluarga? Aku juga menghendaki tahu. Ah, entah kenapa aku sebetulnya selalu jadi orang seringkali mengkhawatirkanmu, semoga semua baik-baik saja.

Hei, apakah kau sekarang malu bercerita denganku?

Aku sadar, roti yang kau mempunyai tidak ulang wajib selalu dibagi jadi dua seperti dulu. Kau udah mempunyai tempat kemana wajib membagi kisahmu. Kau mempunyai tempat pulang yang tidak dapat membuatmu bosan. Kau mempunyai kewajiban untuk tidak mengumbar peliknya rumah tanggamu terhadap siapapun. Tidak juga padaku. Aku tidak apa-apa, bukankah sebetulnya begitu lebih baiknya? Meski kadang-kadang hidupku jadi tidak seseru yang dulu.

Sahabatku, tahukah kau? Masih tersedia cawan di dalam diriku yang dapat kau tuangi sekali waktu. Tentang apa-pun itu, kau dapat berkunjung untuk membagi ceritamu padaku.

Cerita hidup yang seringkali jadi milik kita bersama, tentu dapat lebih banyak kau bagi dengannya. Meski kita jadi jarang bersua, rasa bahagiaku jadi sahabatmu tetaplah sama.

Setelah memerikan ucapan pernikahan kepadamu, kau tak ulang segalau dulu. Kau tidak wajib bingung untuk pulang kemana, gara-gara udah tersedia pasangan hidup yang siap kapan saja di sisimu. Bahagiamu adalah bahagiaku. Begitulah kita memaknai persahabatan kita berasal dari dulu.

Terkadang kita hanya sebuah lego yang dapat dibentuk apa saja. Kita adalah manusia fleksibel yang dapat berperan di dalam posisi apa saja. Dengan statusmu yang udah berubah, bukan alasan kita tidak ulang bertegur sapa sperti dulu. Tapi kita mempunyai cara yang berbeda untuk selalu melaju bersama.

Sampai kapanpun, kau tetaplah sahabatku. Aku tetaplah sahabatmu. Tidak dapat tersedia yang beralih terkecuali kita dihadapkan di dalam satu ruang yang sama. Aku selalu mempunyai bagian yang dapat kau isikan sesukanya. Aku jadi orang yang selalu dapat kau hubungi tiap tiap saat saat kau sedang jemu. Jika kau mempunyai saat luang setelah mengurus rumah tangga, berkunjunglah. Maka kita dapat dengan menertawai hidup seperti biasanya.

Karena persahabatan bukan tentang seringnya keberadaan. Adanya pasangan bukan jadi alasan kita untuk saling mengalpakan. Ketahuilah, aku dapat selalu tersedia tiap tiap kau perlu saran.

Meski aku belum menikah, aku tidak pernah lupa untuk studi bagaimana rasanya menikah. Belajar berasal dari orangtuaku, buku, dan kau. Kita yang dulu selalu saling beri tambahan saran, sekrang tidak ulang tersedia untuk beri tambahan penawaran. Kau dan aku barangkali jadi lebih dewasa untuk memecahkan masalah.

Tapi satu hal yang wajib kau tahu, semua rahasiamu tetap aman untuk kusimpan seperti janjiku.

Kau tidak wajib curiga untuk menceritakan suatu hal padaku, siapa tahu aku dapat membantumu. Kau tidak wajib ulang sungkan untuk meminta saranku, siapa tahu aku dapat beri tambahan pencerahan.

Agar aku tidak mulai kehilangan, beginilah caranya aku menyayangimu. Meski kita tidak pernah dapat ulang kerap bersua, rasa persaudaraan kita tetaplah sama. Karena kita tahu, menikah bukanlah alasan untuk saling mengalpakan hubungan kita yang dulu. Kau tetap jadi orang penting di dalam hidupku, begitupun sebaliknya.

Semoga hidupmu selalu baik-baik saja, sahabatku.

(172.31.19.52)
Reply To: Surat Untuk Sahabat yang Segera Melangkah Ke Pelaminan
Your information: