Bagaimana Cara Tokyo Mengatasi Populasinya yang Membludak?

  • BUDAYA
  • SOSIAL
  • Tokyo adalah monster dari segala kota dengan jumlah penduduknya yang sangat besar, yaitu lebih dari 13 juta jiwa. Itu angka yang sangat besar untuk dibayangkan, tapi untuk melihat sebagian kecil dari jumlah tersebut dalam satu tempat sangatlah menakjubkan. Area Tokyo yang memiliki populasi sangat banyak biasanya sangat ramai “Scramble” Shibuya yang terkenal menunjukkan lebih dari seribu orang menyeberang jalan per menit, dan toko serba ada dan kereta umumnya sangat penuh pada akhir minggu dan selama jam sibuk. Acara dan festival yang terkenal juga menunjukkan jumlah orang-orang yang sangat banyak.

    Meskipun demikian, Tokyo tetap menjadi satu dari banyak kota teraman di dunia untuk hidup, dan Tokyo memiliki pelayanan publik yang baik dan memiliki restoran, hotel, serta apartemen yang lebih dari cukup untuk semua penduduknya. Bagaimana cara Ibu kota Jepang ini mengatasi pembludakan populasinya?

    1. Populasinya mungkin besar, tapi areanya juga sangat besar

    Meskipun Tokyo merupakan salah satu kota yang memiliki populasi terbesar di dunia, kepadatan penduduknya tidak sebesar itu, yang artinya tersedia banyak ruang per orang. Luas Tokyo adalah 2.118 kilometer persegi yang berarti kepadatan penduduknya adalah 6.158 orang per kilometer persegi. Meskipun populasinya besar, namun tidak begitu padat dibandingkan dengan kota yang lain. Contohnya, di Mumbai, India memiliki kepadatan penduduk sebanyak 28.508 tiap kilometer perseginya dan Manila di Filipina memiliki kepadatan penduduk 41.515 tiap kilometer perseginya. Sebagai perbandingan, Tokyo adalah kota yang cukup luas untuk jumlah orang yang tinggal di sana.

    2. Tersedia berbagai transportasi umum yang rutin dan tepat waktu

    Ribuan orang pergi ke area bisnis seperti Stasiun Tokyo, Shinjuku, dan Shibuya pada hari kerja untuk bekerja. Pada jam-jam sibuk, tidak diragukan lagi bahwa Tokyo menjadi sangat penuh dengan orang-orang yang memaksa masuk dan terhimpit di kereta selama perjalanan mereka menuju kantor. Tapi, pegawai kereta dan bis bekerja tanpa lelah untuk memastikan transportasi umum tiba dengan cukup rutin dan berangkat setepat waktu mungkin. Di pusat Tokyo, kereta ada setiap tiga atau empat menit, cukup untuk mengatasi banyaknya orang yang ingin naik kereta.

    3. Penduduk Tokyo terbiasa dengan keramaian

    Tidak peduli seberapa penuh keretanya, pasti akan selalu ada orang-orang yang naik, memaksa orang lain untuk bergeser dan memberi jalan. Orang-orang mungkin melihat betapa penuh kereta itu dan memutuskan untuk naik kereta berikutnya, tapi orang-orang yang tumbuh besar di Tokyo tidak akan keberatan untuk memaksakan diri untuk naik walaupun hanya ada beberapa sentimeter ruang yang tersisa!

    4. Gedung-gedung dibangun meninggi, tidak melebar

    Biarpun ada beberapa pengecualian, gedung-gedung Jepang cenderung cukup ramping dan menjulang tinggi, memanfaatkan ruangan yang tak begitu luas di tiap lantainya. Bukan hal yang langka lagi untuk menemukan gedung publik, seperti pusat perbelanjaan atau kafe yang hanya memiliki luas bangunan sebanyak beberapa meter persegi tapi memiliki lebih dari sepuluh lantai. Gedung seperti ini memanfaatkan lahan yang sangat kecil (dan sangat mahal) sebaik mungkin.

    Anda juga akan melihat barang-barang dagangan dijejalkan ke dalam semua ruang yang tersedia dari lantai hingga atap. Contoh yang tepat adalah di Akihabara, dimana Anda akan menemukan toko-toko suvenir anime. Jika Anda mengunjungi Akhibara suatu saat, coba lihat berapa “tower” yang dapat Anda temukan!

    5. Apartemen dan hotel yang kecil

    Lagi-lagi, karena harga lahan yang mahal, apartemen di Jepang cenderung jauh lebih kecil dari apartemen di Indonesia. Bahkan rumah-rumah dibangun sangat berdekatan antara satu dengan yang lain untuk menghemat ruang sebanyak mungkin. Hotel bisnis mungkin hanya menawarkan sebuah kamar kecil dan kamar mandi yang sempit, dan di Tokyo, apartemen yang hanya memiliki satu kamar adalah sesuatu yang normal.

    6. Banyak orang tinggal di prefektur tetangga

    Biarpun Anda akan melihat ribuan orang berlalu-lalang di Tokyo setiap hari, ternyata banyak dari mereka yang tidak tinggal di Tokyo. Tokyo tidak perlu menyediakan tempat tinggal untuk mereka karena sebagian besar telah tinggal di kota tetangga seperti Kanagawa, Saitama, dan Chiba. Karena itu, orang-orang yang Anda lihat memenuhi area Tokyo akan pulang ke prefektur lain nantinya.

    Walaupun Tokyo dikenal ramai dan sibuk, jangan biarkan hal ini memcegah Anda untuk mengunjungi kota fantastis ini! Jepang mengatasi populasi mereka dengan sangat baik. Tidak hanya keriuhan dalam kota masif ini, namun ada banyak pula taman dan tempat sunyi di Tokyo dimana Anda dapat bersantai.

    Anda ingin menginap di Tokyo? Cek semua hotel yang ada di area ini!