Mengapa di Starbucks Jepang Pelanggan Tidak Dipanggil Berdasarkan Nama Mereka?

  • BUDAYA
  • SOSIAL
  • “Satu karamel macchiato panas untuk Jeni!” Itulah panggilan biasa dari staf Starbucks ke pelanggannya saat pesanan telah siap diambil. Namun, hal tersebut tidak berlaku di Starbucks Jepang. Bagaimana bisa?

    Tidak berdasarkan nama depan

    Di Negeri Matahari Terbit ini, terdapat etiket bahwa pelanggan harus dipanggil berdasarkan pesanannya, bukan namanya. Hal ini mungkin tidak biasa di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Filipina, dimana pelanggan biasanya menulis nama depan mereka ketika memesan di kasir Starbucks. Bagaimanapun juga, ini adalah hal yang masuk akal di Jepang.

    Nama keluarga, gelar kehormatan dan privasi

    Mirip dengan Cina dan Korea, sistem pemberian nama biasanya dimulai dengan nama keluarga, lalu diikuti dengan nama depan. Jika seorang barista menulis pesanan dari seorang pria bernama Takeshi Jin, kemungkinan ada banyak pelanggan lain dengan nama serupa juga sedang mengantri pesanan karena Takeshi adalah nama yang umum di Jepang. Hal ini dapat menyebabkan kebingungan antar para pelanggan.

    Selain itu, Jepang memiliki cara yang sangat khas untuk memanggil seseorang, yaitu dengan nama sebutan dan gelar kehormatan (contoh sebutan setelah nama seseorang: -san, -sama, -kun, -chan, and -sensei). Memanggil seseorang hanya dengan nama depannya saja adalah perbuatan yang tidak sopan. Faktanya, memanggil seseorang dengan nama depan saja hanya berlaku untuk teman dekat dan anak – anak. Untuk alasan itulah, Anda bisa mengharapkan perlakuan netral dari staf Starbucks di Jepang.

    Penggunaan nama depan dapat dibilang sangat ketat di Jepang. Orang Jepang sangat menjaga privasi mereka. Menggunakan nama pertama dianggap mengganggu di dalam budaya mereka. Anda dapat membandingkannya dengan perasaan orang Inggris, dimana beberapa orang merasa tidak nyaman jika diperlalukan terlalu santai di sebuah kedai kopi ketika mereka hanya ingin membeli secangkir kopi saja, tanpa ada rasa ingin bersosialisasi.