Hal-Hal yang Mungkin Anda Sukai sebagai Wanita Asing di Jepang

  • BUDAYA
  • SOSIAL
  • Saya tinggal di China selama lebih dari dua tahun dan di hari pertama saya di negara tersebut (saya tiggal di sebuah kota dimana tidak banyak orang barat disana), seorang wanita paruh baya mendekati saya di jalan dan menyentuh rambut saya… Selamat datang di China! Hidup di negara asing, terutama di tempat dimana orang berbeda dengan Anda, dapat menjadi suatu pengalaman yang menakutkan dan membuat banyak orang menunda untuk bepergian ke luar negeri. Meskipun begitu, bagaimana Anda diperlakukan sebagai orang asing dapat berbeda-beda dari negara satu dan lainnya dan bagi saya, menjadi ‘Gadis Berkulit Putih’ di Jepang sebenarnya sama sekali bukan masalah besar.

    Keamanan

    Saya merasa aman di Jepang. Meskipun faktanya saya sangat mencolok, saya merasa jarang menarik perhatian yang tidak perlu. Saya dapat berjalan-jalan sendirian di sekitar kota tanpa merasa khawatir akan menjadi target kriminal karena saya orang asing. Kadangkala saya ditatap dengan cara yang aneh, namun hal itu dapat terjadi dimanapun Anda berada, dan karena orang Jepang kebanyakan sangat sopan, mereka akan cukup rendah hati untuk memalingkan muka jika Anda mendapati mereka sedang mengamati Anda.

    Perlakuan istimewa

    Di kebanyakan tempat, orang asing diperlakukan sebagai ‘tamu kehormatan’ dan layak mendapat perhatian yang berlebih untuk mereka. Di masa lampau, saya pikir di Jepang banyak hal semacam itu. Pada buku Josie Dew ‘A Ride in the Neon Sun’, ia menjelaskan alangkah herannya orang Jepang setempat ketika bertemu orang asing di Jepang (pada kisaran tahun 1990) dan mereka akan menjejalkan keranjang penuh dengan berbagai hadiah di sepedanya. Dengan banyaknya tempat di Jepang yang saat ini, setidaknya ada beberapa orang asing disana dan perlakuan semacam itu tidak banyak terjadi, bahkan di kota yang lebih kecil, namun orang asing tetap diperlakukan dengan hormat. Nyatanya, merupakan suatu keuntungan bahwa perlakuan istimewa ini telah banyak berkurang di jaman modern ini, karena akan terasa risih jika kita mendapat perlakuan khusus secara berlebihan sepanjang waktu, padahal Anda hanya ingin melakukan kegiatan sehari-hari dengan tenang.

    Pujian

    Ini bisa membuat kita menjadi besar kepala, kadang kita dipuji padahal kita tak pantas untuk mendapatkannya. Bisa jadi Anda sedikit kelebihan berat badan, kulit yang kusam dengan rambut yang belum dicuci, namun karena Anda terlihat eksotis, orang-orang akan tetap berpikir bahwa Anda anda sangat cantik, terutama jika Anda berambut pirang dan bermata biru. Pujian yang seringkali didengar adalah ‘Kulitmu begitu putih!’ dan ‘Kau terlihat seperti boneka yang putih!’, yang keduanya membuat saya tertawa setiap kali mendengarnya, terutama ketika saya dikelilingi oleh gadis-gadis Jepang yang langsing dengan gaya rambut yang indah dan riasan yang sempurna.

    Kebaikan dan pertolongan yang terus datang

    Orang Jepang mengerti bahwa kebanyakan gaijin atau orang asing tidak bisa berbahasa Jepang (atau setidaknya, bisa sedikit) dan mereka sangat memaklumi jika Anda tidak paham. Seringkali orang Jepang akan menggunakan cara mereka sendiri untuk membantu Anda ketika Anda mengalami kesulitan, hal ini ialah satu kegembiraan terbesar saat menjadi orang asing di Jepang dibandingkan dengan negara lain seperti Cina dimana sebagian orang-orang lokal akan menghindari orang asing karena takut akan direpotkan. Adakalanya Anda akan bertemu dengan asisten toko yang kebingungan yang mengalami ‘gaijin panic’ dimana mereka tidak tahu bagaimana cara membantu Anda dan khawatir jika Anda akan begitu marah, atau sesuatu semacam itu. Ketika hal tersebut terjadi, saya akan menjabat tangan mereka dan berkata ‘Tenang saja ya, saya orang kulit putih, tapi semuanya akan baik-baik saja!’

    Kerugian

    Apakah ada kerugian karena menjadi gaijin di Jepang? Terlepas dari semua berbagai hal di atas, tentu ada beberapa hal yang masih dapat ditingkatkan. Saat ini Jepang menjadi lebih multikultural dan multietnik dibandingkan sebelumnya, akan tetapi masih cukup homogen, dan nampaknya masih ada beberapa masyarakat setempat yang kurang senang dengan masuknya orang asing. Di Tokyo, saya sering menjumpai tempat duduk di samping saya di dalam kereta tersisa satu, bahkan dalam jam sibuk, mereka lebih memilih untuk berdiri daripada duduk di sebelah orang asing. Seringkali orang memandang Anda dengan cara ‘orang itu?’, namun biasanya lebih pada ‘Oh lihatlah bukankah itu menarik?’. Saya menyebutkan bahwa di Cina, seseorang menyentuh rambut saya dan saya berpikir bahwa hal itu sungguh cukup aneh. Sehingga saya berpikir betapa menyenangkannya hal semacam itu tidak terjadi pada saya di Jepang… hingga seorang lelaki tua turun dari bus dan menyentuh wajah saya. Jadi, begitulah – orang aneh ada dimana-mana! Untuk sebagian besar hal, saya merasa diterima dan seakan di rumah ketika di Jepang. Saya tidak berpikir bahwa saya akan benar-benar merasa melibatkan diri secara mendalam disini. Inklusi semacam itu membutuhkan multikulturalisme dalam waktu berdekade atau dasawarsa dan agar hal ini benar-benar berhasil, masyarakat setempat harus 100% bersedia untuk sepenuhnya menyertakan orang asing, yang saat ini belum terjadi di Jepang. Namun saya bahagiakarena saya tidak merasa dilecehkan, saya tidak merasa sendiri dan jika orang-orang mengikuti saya hanya untuk mengatakan kepada saya bahwa saya boneka putih yang cantik, pun tidak mengapa.