Mengapa Biksu Budha di Jepang Diizinkan untuk Menikah?

  • BUDAYA
  • SOSIAL
  • Tidak hanya biksu Budha di Jepang yang diizinkan untuk menikah dan memiliki anak, mereka juga diizinkan untuk mengkonsumsi daging dan meminum alkohol. Namun, hal ini hanya berlaku bagi sebagian dari mereka. Para biksu yang telah bersumpah untuk tidak menikah selamanya tidak diizinkan untuk melakukan hal yang telah disebutkan diatas, sedangkan para biksu yang tidak bersumpah untuk tidak menikah selamanya diizinkan untuk melakukannya. Hal yang sama juga berlaku bagi biarawati dan biksu Budha di negara lainnya. Siapa saja yang biasanya bersumpah untuk tidak menikah selamanya? Mengapa hal ini lebih umum di Jepang dibandingkan di negara lain? Baca uraian berikut untuk mengetahuinya!

    Beda Sekolah, Beda Peraturan

    japanese-monk

    Biksu di Jepang menikah pada awal zaman Heian ( 平安; 794 sampai 1185), dan terus berlanjut sampai ke zaman Kamakura ( 鎌倉; 1185 sampai 1333), zaman Muromachi (室町; 1336 sampai 1570), dan zaman Edo ( 江戸; 1600 sampai 1867), sampai sekarang.

    Di Jepang dan negara Asia lainnya, terdapat banyak sekolah Budha yang berbeda, yang bercabang menjadi sekte berbeda, dan kemudian menjadi cabang yang berbeda pula. Sekolah Budha dan sekte yang berbeda ini menganut pendekatan dan cara pandang yang berbeda pada ajaran yang sama, yaitu Buddhisme (agama Budha). Beberapa sekte agama Budha yang ditemukan di Jepang termasuk Zen (禅), Risshu (律宗), Shingon (真言), dan lainnya. Yang terakhir termasuk seperti Soka Gakkai (創価学会), Rissho Kosei Kai (立正佼成会), Nipponzan-Myohoji-Daisanga (日本山妙法寺大僧伽), dan lain-lain.

    Pada dasarnya, para biksu yang berasal dari sekolah perguruan Mahayana ( マハヤナ学園), seperti Zen, Tendai (天台), Jodo-shu (浄土宗), dan sebagainya, tidak diwajibkan untuk tidak menikah. Namun, terdapat beberapa biksu dari sekte ini yang memilih untuk tidak menikah. Para biksu yang memilih disrobe (menanggalkan pakaian Budha mereka), atau dalam istilah awamnya mereka yang memilih untuk keluar, dapat mengabaikan sumpah untuk tidak menikah mereka.

    Hukum Nujukiku Saitai (肉食妻帯) oleh Pemerintah Meiji

    Pada tahun 1869 secara resmi ditandai sebagai akhir dari Bakufu setelah 800 tahun masa pemerintahan dan pemulihan kekuasaan Kaisar. Hal ini juga menjadi titik balik bagi Jepang dimana semua pintu terbuka untuk dunia dan modernisasi sedang dilakukan. Ini berarti semua hal yang berhubungan dengan Bakufu akan dihancurkan dan dimusnahkan, dan juga, sayangnya, termasuk ajaran agama Budha.

    Sebelum Restorasi Meiji ( 明治維新), kedua agama Shinto dan Budha bersatu dalam satu ajaran yang disebut Shinbutsu-shugo (神仏習合). Namun, ketika Kaisar menggunakan kekuasaannya, Shinto terpisah dari Budha. Mengapa bisa demikian? Kaisar Jepang telah dikenal sebagai keturunan dari kami ( 神), atau Dewa, berdasarkan agama Shinto, dan ketika Shogun memilih agama Budha, Kaisar memilih sebaliknya. Hal ini menjadi permulaan dari pembersihan agama Budha, yang dikenal sebagai ” Haibutsu kishaku (廃仏毀釈),” dimana kuil dihancurkan dan biksu Budha dipaksa untuk menjadi biksu Shinto.

    Pada tahun 1872, Pemerintah Meiji memutuskan bahwa biksu Budha harus dibebaskan untuk mengkonsumsi daging dan menikah dengan mengeluarkan Hukum Nikujiku Saitai. Hal ini dipandang sebagai jalan pemerintah untuk melemahkan institusi agama Budha. Namun, terdapat beberapa biksu yang memilih untuk tidak menikah. Hukum ini menjadi permulaan dari praktik “Kuil keluarga” dimana administrasi dari kuil dan biara diturunkan dari ayah ke anak laki – lakinya. Praktik ini sebenarnya mempengaruhi negara – negara seperti Korea dan Taiwan.

    Semoga, dengan penjelasan diatas dapat menjawab pertanyaan yang ada di pikiran sebagian orang mengenai biksu yang tidak menikah di Jepang. Disini, saya ingin mengakhirinya dengan kutipan dari Honen ( 法然), pendiri dari Jodo-shu, “Jika mudah baginya untuk menunjukkan keimanannya dengan melafalkan nama Budha seorang diri, ia harus tidak menikah. Jika mudah baginya untuk melafalkannya bersama pasangan, lebih baik ia menikah. Apa yang penting adalah hanya bagaimana seseorang menunjukkan keimanannya dengan melafalkan nama Budha.”

    Reference: vatican.va/