Mengapa Banyak Sekali Orang Jepang yang Melakukan Bunuh Diri?

  • BUDAYA
  • SOSIAL
  • Kita telah menyaksikan dan mendengarkannya di dalam berita. Tidak hanya sekali, dua kali, tetapi sering sekali. Mereka melakukannya di dalam ruangan tersembunyi mereka. Atau di gunung yang jauh sekali di mana tak ada seorangpun yang dapat melihat. Namun, lebih buruk lagi, di depan mata publik seperti di kereta, dan yang terbaru, shinkansen yang memiliki rekor 0 kecelakaan, namun sekarang telah ternodai, di mana orang yang kemungkinan besar tidak bersalah dapat merasakan dampaknya. Dalam salah satu kejadian bunuh diri yang terkenal di shinkansen, yaitu satu penumpang tidak bersalah ikut tewas akibat kekurangan nafas. Banyak sekali orang Jepang yang melakukan bunuh diri. Namun mengapa? Mengapa di negara yang begitu indah beberapa orang memilih untuk mengakhiri hidup mereka? Saya telah mencoba untuk mencari beberapa jawaban dari pertanyaan ini dan izinkanlah saya untuk membagikan apa yang telah saya temukan dengan Anda.

    1. Dilebih-lebihkan

    Bunuh diri terjadi di mana saja. Fakta yang menyedihkan bahwa beberapa orang berjuang di bumi yang indah ini memilih untuk berhenti bertarung dan memilih untuk beristirahat secara abadi. “Jisatsu” seperti yang disebut dalam bahasa Jepang, atau bunuh diri adalah sebuah peristiwa yang universal. Jepang tidak sendirian. Dan yang lebih penting, Jepang bukan negara teratas dengan angka bunuh diri tertinggi. Faktanya, Jepang hanya berada di peringkat 18 dari 25 negara teratas dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia. Di peringkat kelima adalah Lithuania, Sri Lanka keempat, Korea Selatan ketiga, Korea Utara kedua dan Guyana berada di nomor paling atas. Jepang bahkan tidak masuk di daftar peringkat 10 teratas. *hanya dalam bahasa Inggris

    Menurut saya, ini mungkin saja karena angka kriminalitas di Jepang sangat rendah dan perusahaan berita tidak mempunyai pilihan lain untuk membahas hal selain kejahatan yang disebabkan oleh diri sendiri seperti bunuh diri. Di negara lain, terdapat lebih banyak tekanan sosial, di mana membicarakan tentang mereka yang melakukan bunuh diri tidak terlalu diutamakan. Media memainkan peran penting dalam masalah sosial. Semakin banyak sebuah isu disirkulasi di media, semakin terlihat lebih penting pula isu tersebut, melebihi apa yang terjadi di kehidupan nyata.

    2. Perilaku Sosial

    Mungkin Anda pernah membaca betapa baik dan rukunnya orang Jepang. Betapa baiknya mereka mematuhi peraturan seperti yang tertanam dalam budaya “atarimae” mereka. Atarimae dalam bahasa Indonesia berarti seharusnya, selayaknya dan sepantasnya. Mereka melakukan sesuatu yang benar sebab merupakan “atarimae”. Itu adalah hal yang sepantasnya dilakukan. Sudah seharusnya untuk membuang sampah pada tempatnya. Sudah selayaknya untuk mundur dari pekerjaan Anda jika dituduh melakukan sesuatu. Dan terkadang, sudah sepantasnya untuk mengakhiri hidup Anda jika tertimpa masalah dan masalah yang Anda hadapi menyebabkan masalah terhadap orang lain. Seperti ketika seorang kepala perusahaan gagal melakukan tugasnya dan menaruh perusahaan di situasi yang buruk. Atau seorang tua yang menderita karena penyakit dan harus dirawat oleh keluarganya. Mereka tidak ingin merepotkan orang lain sehingga mereka memilih untuk mengakhiri hidup. Orang Jepang juga menghargai kejujuran dan integritas. Begitu tingginya sehingga di saat mereka dihadapi dengan situasi yang memalukan, sebuah skandal yang menodai nama dan reputasi, mereka merasa hal ini sangat sulit untuk ditangani dan mustahil untuk diperbaiki. Sebuah situasi yang dapat dilepaskan hanya dengan cara menghilang. Tentu saja hal ini tidak terjadi terhadap semua orang Jepang, hanya sangat sedikit.

    3. Nilai Sejarah

    Di masyarakat Jepang kuno, sebuah ritual bunuh diri dengan mengeluarkan isi perut yang disebut “seppuku” dan juga disebut “harakiri” dulunya dilakukan oleh samurai Jepang. Seppuku secara harafiah berarti “memotong perut”. Samurai yang melakukan seppuku biasanya akan menggunakan pisau kecil yang disebut “tanto”, sebuah kapak dan memotong perut mereka sedangkan seorang samurai lainnya, bertindak sebagai pembantu, untuk memotong kepala mereka. Salah satu bentuk bunuh yang sangat ritual ini, bagian dari samurai bushido (jalan hidup samurai) yang telah dihapuskan sebagai hukuman dari pemerintahan pusat di tahun 1873. Walaupun telah dihapuskan, seppuku sukarela dilakukan di daratan militer. Tindakan ini disebut dipuji secara luas oleh pihak propaganda. Saya rasa hal ini dapat menjadi salah satu alasan mengapa orang Jepang melakukan bunuh diri. Hal ini terdapat dalam budaya mereka. Hal ini terdapat dalam sejarah. Pada akhirnya, kita tidak dapat sungguh-sungguh menjelaskan mengapa orang Jepang melakukan bunuh diri, karena saya yakin orang terbaik yang dapat memberitahu kita adalah orang yang melakukan bunuh diri, yang sayangnya, mustahil untuk dilakukan kecuali Anda melihat dan berbicara kepada mereka di kehidupan yang lain.