3 Alasan Historis Mengapa Orang Jepang Sulit Mengutarakan Perasaannya

  • BUDAYA
  • SELURUH NEGERI
  • SOSIAL
  • Apakah Anda memiliki teman orang Jepang? Bila punya, seberapa dekatkah Anda dengan mereka?

    Sebagai orang asing yang tinggal di Jepang, pada umumnya, Anda akan memperhatikan bahwa orang Jepang tidak suka memperlihatkan “honne” (perasaan sesungguhnya) mereka sehingga biasanya cukup sulit untuk membangun hubungan dekat dengan mereka. Apakah Anda penasaran, mengapa banyak dari teman Anda sangat jarang menceritakan pendapat pribadinya?

    Salah satu alasan yang sering digunakan adalah karena orang Jepang begitu menghargai kebersamaan sehingga mereka merasa sulit untuk bersikap individual dan mengekspresikan perasaan mereka. Kami akan mencoba untuk mengungkapkan mengapa watak seperti itu dapat terbangun dengan melihat sejarah mengapa watak tersebut dapat terbangun!

    1. Kelompok Agraris

    Masyarakat mulai hidup berkelompok sejak awal dimulainya pertanian padi di Jepang pada abad ketiga sebelum masehi. Dengan dibutuhkannya supervisi terhadap reklamasi dan kanal-kanal air, dan juga pentingnya tenaga kerja dan populasi yang besar untuk bertani padi, kepentingan bersama menjadi lebih penting daripada kepentingan pribadi, dan berlaku tidak kooperatif dapat berakhir dengan kematian.

    Hal ini kemudian ikut terbawa sampai ke generasi sekarang. Watak menutupi perasaan sendiri menjadi pilihan yang dilakukan oleh banyak orang Jepang untuk mencapai keuntungan kolektif, sehingga mereka harus mengurungkan diri untuk mendorong keinginan pribadi mereka.

    2. Budaya Samurai

    Budaya Samurai yang lekat tertanam dalam budaya Jepang juga menjadi salah satu alasan utama mengapa watak ini terbentuk. Dengan berjalannya waktu, periode samurai dimulai. Dalam periode itu, perintah penguasalah yang dilaksanakan, sehingga segala sesuatu yang melanggar peraturan kelompok adalah sebuah kejahatan besar. Seperti yang diperkenalkan oleh Nitobe Inazou dalam bukunya “Bushido”, kepercayaan untuk mempertaruhkan jiwa untuk sang penguasa mulai dipegang oleh para samurai, untuk menunjukkan kuatnya persatuan dalam komunitas tersebut. Sifat tunduk pada penguasa atau atasan, dan lagi-lagi demi kepentingan kelompok, kemudian ikut terbawa sampai pada generasi sekarang.

    3. Satu Budaya, Ras, dan Bahasa

    Jepang adalah sebuah negara kepulauan yang dikelilingi oleh laut dari segala sisinya. Meskipun ada beberapa dialek yang berbeda, pada dasarnya rakyatnya memiliki bahasa yang sama, berbagi budaya yang sama, dan adalah satu etnik yang sama. Terlebih lagi, 75% bagian dari negaranya adalah pegunungan dan tidak banyak dataran landai yang cocok untuk pemukiman. Karena alasan tersebut, para rakyatnya harus hidup bersama dalam area yang terbatas, dan hal ini semakin memperkuat rasa kebersamaan mereka.

    Ini bukanlah hal yang buruk sebenarnya. Tapi karena keseragaman tersebut, perdebatan atau pertukaran pendapat jadi jarang terjadi, atau setidaknya menjadi hal yang sangat dihindarkan.

    Permasalahan dari Kebersamaan yang Berlebihan

    Dengan latar belakang seperti ini, budaya menjaga kerukunan bukan perdebatan dengan satu sama lain lah yang dipegang teguh. Sebagai contoh, adanya peribahasa Jepang yang berbunyi “Paku yang mencuat akan dipukul dengan palu” dengan jelas menggambarkan kecenderungan seperti ini. Segala sesuatunya dilakukan untuk kebersamaan, tanpa memerdulikan kepentingan individual.

    Tetapi, kebiasaan untuk tidak mengungkapkan perasaan sesungguhnya membawa kekurangan tersendiri, rendahnya kemampuan untuk mengambil keputusan dan inisiatif menjadi masalah yang sering dirasakan dalam perusahaan-perusahaan global di Jepang.

    Perubahan yang Sedang Terjadi

    Perilaku ini mulai berubah saat ini dengan bertambahnya orang yang ingin mengkomunikasikan perasaan mereka yang sesungguhnya. Dengan kecenderungan seperti ini, layanan-layanan web menjadi semakin popular untuk wadah berbagi pendapat sesungguhnya. Banyak orang menggunakan platform Twitter ataupun Instagram untuk menyuarakan pendapat mereka. Hal ini lebih dirasakan di golongan muda Jepang, yang sangat gencar menyuarakan pendapat mereka. Mari kita lihat ke depannya, apakah perubahan ini menuju kepada perkembangan positif dari Jepang, atau malah menjadi kerugian tersendiri di masa mendatang.