Seperti Apa Kehidupan Mahasiswa di Universitas Jepang?

  • BUDAYA
  • SOSIAL
  • Seperti apakah menjadi seorang mahasiswa di Jepang? Pertama-tama, diterima di sebuah universitas Jepang tidaklah mudah bagi kebanyakan mahasiswa di Jepang. Butuh waktu yang banyak dan biaya yang sangat besar dan bahkan mengorbankan hubungan dengan kekasih. Waktu yang dihabiskan untuk mempersiapkan ujian masuk sangatlah banyak dan merupakan prioritas utama untuk pendaftar. Bahkan beberapa pasangan putus dengan pasangan mereka hanya untuk fokus pada persiapan ulangan dan ujian mereka. Juken atau ujian masuk adalah hal besar di Jepang. Ujian ini dapat membuka atau menghancurkan masa depan mereka. Para orang tua menghabiskan uang untuk juku atau bimbingan belajar (mulai dari SD sampai SMA) untuk membantu anak-anak mereka masuk ke universitas yang bagus. Namun, setelah melewati halangan yang keras dan berliku itu, jika berhasil mendapatkan kartu mahasiswa, maka hidup mereka akan menjadi lebih mudah. Seorang teman Jepang saya pernah mengatakan bahwa masuk ke universitas itu sulit, namun lulus itu mudah.

    Seperti apa rata-rata kehidupan mahasiswa Jepang? Mari kita simak.

    Jadwal Kelas

    Kelas-kelas di universitas biasanya diadakan sekali, dua kali, atau tiga kali seminggu tergantung pada masing-masing departemen atau jurusan. Saat saya menjadi seorang mahasiswa internasional di salah satu universitas Jepang, kebanyakan kelas saya diadakan sekali seminggu dan ada satu yang diadakan dua kali sebulan. Ada jadwal siang hari dan malam hari. Jadwal bervariasi dari universitas ke universitas lain. Periode pertama biasanya dimuai sekitar pukul 8:30 dengan periode terakhir sekitar pukul 17:30. Jadwal malam biasanya dimulai pukul 18:00 hingga 20:00. Mahasiswa dapat memilih mata kuliah sebanyak yang mereka inginkan.

    Klub Sekolah

    Satu hal yang saya amati tentang mahasiswa Jepang adalah klub merupakan bagian besar dalam kehidupan mereka. Klub dansa, paduan suara, akustik, band musik klasik, sepak bola, baseball, bola voli, (sebutkan semua nama olahraga, mungkin mereka punya klubnya) klub memasak dan klub bahasa Inggris. Saya tak bisa menyebutkan semuanya! Mereka sangat menyukai kegiatan-kegiatan itu sampai-sampai ada mahasiswa yang menjadi anggota lebih dari satu klub. Mereka sangat aktif hingga kadang mereka lebih banyak menghadiri pertemuan klub dan latihan-latihan dibandingkan kelas-kelas reguler. Suatu kali, profesor kami sangat terkejut karena separuh kelas tidak hadir. Mereka berada di klub mereka masing-masing dan melakukan gladi resik untuk acara sekolah yang akan datang. Saat upacara pembukaan (diadakan bulan April), para anggota klub memenuhi gerbang universitas, lorong dan lapangan untuk mengajak mahasiswa-mahasiswa baru untuk menjadi anggota klub mereka. Cara mereka mengajak pendatang baru membuat situasi menjadi seperti festival atau kadang seperti supermarket yang sedang mengadakan diskon besar-besaran.

    Arubaito

    Arubaito adalah istilah bahasa Jepang untuk kerja paruh waktu. Kebanyakan mahasiswa mempunyai kerja paruh waktu. Toserba, toko ramen, toko udon, restoran, supermarket, juku atau bimbingan belajar adalah tempat-tempat dimana mereka melakukan arubaito. Sebuah survei kecil-kecilan tak resmi yang saya lakukan di universitas saya menunjukkan bahwa pendapatan mahasiswa yang didapat dari arubaito biasanya digunakan untuk menunjang diri mereka seperti membayar tagihan, keperluan sehari-hari (jika mereka adalah hitori gurashi atau hidup sendiri), berbelanja (kebanyakan untuk wanita), bepergian dan bersosialisasi (seperti pesta minum dan karaoke).

    Menjadi mahasiswa di Jepang bisa menjadi hal yang menyenangkan dan menyibukkan bagi mereka yang dinamis dan pro-aktif dan bisa juga membosankan dan buruk bagi mereka yang malas dan tak memiliki motivasi. Pilihan ada pada Anda!