Cerita Menyeramkan dari Jepang Tentang Sang Puisi Pembunuh

  • BUDAYA
  • Apakah Anda takut kegelapan? Setiap kebudayaan memiliki cerita hantu dan cerita daerah yang menyeramkan. Legenda dan cerita hantu yang menakutkan bisa membuat budaya dan orang-orang di tempat dimana cerita tersebut berasal menjadi sorotan. Ini adalah artikel ketujuh dan merupakan artikel yang terakhir dalam rangkaian cerita menyeramkan dari Jepang. Inilah kisah Tomino: Sang puisi pembunuh.

    Sang Puisi Pembunuh

    “Ayo lakukanlah! Apakah kau ini pengecut? “Taro memegang secarik kertas usang di tangannya. 4 anak laki-laki lain di kelasnya berteriak setuju, mencemoohnya. Itu hanyalah puisi tua yang konyol. Puisi itu tidak terlalu panjang. Yang harus dia lakukan hanyalah membacanya dengan keras, tapi jika dia melakukannya, dia mungkin akan mati …

    Taro berpikir keras untuk menemukan alasan untuk tidak membaca puisi itu. Neraka Tomino adalah puisi lama oleh yang ditulis Saijo Yaso pada tahun 1919. puisi itu sangat terkenal. Legenda mengatakan bahwa siapa pun yang berani membacanya dengan keras, maka ia akan mengalami nasib buruk, sakit, atau bahkan kematian. Tapi, itu hanyalah sebuah legenda, bukan?

    Anak laki-laki yang berbadan paling besar meremas jaket seragam milik Taro sambil berteriak “CEPAT BACA PUISINYA”. Taro pun melihat puisi itu dan membacanya:

    Kakak perempuan memuntahkan darah,
    adik perempuan menghembuskan nafas api
    sementara itu Tomino kecil yang manis
    hanya meludahkan perhiasan.

    Tomino yang sendirian
    terjatuh ke neraka itu,
    neraka dari kegelapan yang gulita,
    tanpa satupun bunga.

    Apakah kakak perempuan Tomino
    yang mencambuknya?
    Tujuan dari cambuk itu
    Menggantung kegelapan dalam pikirannya.

    Mencambuk dan memukulinya, ha!
    Tapi tidak pernah cukup untuk menghancurkannya.
    Jalan yang pasti menuju neraka terdalam,
    neraka yang abadi.

    Ke dalam neraka yang paling gelap
    bimbinglah ia sekarang, aku berdoa-
    untuk domba keemasan,
    untuk burung-burung kecil.

    Berapa banyak yang ia letakan
    di kantong kulit itu
    untuk mempersiapkan perjalanannya
    menuju neraka abadi?

    Musim semi akan tiba
    menuju lembah, menuju hutan,
    menuju jurang yang meliuk-liuk
    dari neraka yang paling hitam.

    Burung-burung kecil di kandangnya,
    domba naik ke atas keretanya,
    dan air mata mengalir di mata
    Tomino kecil yang manis.

    Bernyanyilah, wahai burung-burung kecil,
    di hutan yang luas dan berkabut-
    Ia berteriak ia hanya merindukan
    adik perempuannya

    Keputusasaannya yang meraung
    menggema di seluruh neraka-
    dan sekuntum bunga
    membuka kelopak emasnya.

    Melewati tujuh gunung
    dan tujuh sungai neraka-
    perjalanan sepi
    Tomino kecil yang manis.

    Jika di neraka ini mereka ditemukan,
    semoga mereka datang kepadaku,
    duri-duri tajam hukuman
    dari jarum-jarum yang menggunung.

    Tidak hanya pada beberapa keinginan kosong
    adalah daging yang ditusuk dengan pin merah darah:
    Mereka menjadi pertanda bagi kabar buruk
    untuk Tomino kecil yang manis.

    (Terjemahan dari bahasa Inggris oleh David Bowles)

    Dengan suara yang gemetaran, Taro menyelesaikan puisi itu. Anak-anak laki-laki lainnya hanya diam saja, menatap Taro dan mengira Taro akan tiba-tiba mati di depan mereka. Keheningan itu memekakkan telinga.

    Akhirnya, salah satu dari anak laki-laki itu mencairkan ketegangan dengan mengatakan, “Sepertinya kau tidak mati.” Beberapa tawa pelan kemudian berubah menjadi percakapan, dan setelah beberapa menit keadaan pun kembali normal.

    Ketika Taro sedang berjalan pulang, ia mulai merasa terbodohi. Tidak ada yang namanya puisi pembunuh. Ia mulai memikirkan kebodohannya. Bagaimana bisa sebuah puisi dapat membahayakan orang? Ia tidak merasa ada yang salah dengan dirinya. Ia terkikik sedikit karena kebodohannya, kemudian Taro pun tertawa terbahak-bahak.

    Taro yang sedang tertawa tidak menyadari ada truk besar melaju dengan sopirnya yang tertidur saat sedang mengemudi. Truk itu melaju melewati trotoar, membawa Taro menemui Tomino…