Kenapa Geisha Mewarnai Wajah Mereka dengan Warna Putih?

  • BUDAYA
  • TRADISIONAL
  • Di Jepang, Geisha yang cantik dan penuh teka-teki mewakili salah satu ikon budaya paling terkenal di negara ini. Mereka telah ada sejak awal tahun 600 Masehi, di mana mereka berperan sebagai penghibur dan menemani pria, namun penampilan yang bisa kita kenali sekarang mulai menonjol di abad ke-17. Dilatih dengan keras dalam bidang seni rupa seperti menari, bernyanyi, bermain shamisen, tata krama saat makan, dan percakapan yang bersahabat, Geisha telah menjadi ikon budaya Jepang. Sangat populer di kalangan pengunjung asing yang berharap bisa melihat sekilas mereka dalam perjalanan mereka, Geisha masih dapat dilihat di jalanan kecil di Kyoto dan di bagian lain Jepang dan tampaknya mereka meneruskan tradisi pelatihan-pelatihan dan pertunjukan Geisha yang telah berlanjut selama ratusan tahun di negara yang menakjubkan ini.

    Pertanyaan umum di antara pengunjung adalah “Mengapa Geisha melukis wajah mereka dengan warna putih?” Memang, Anda pasti akan mengenal lapisan tebal fondasi putih yang mungkin merupakan karakteristik Geisha yang paling dikenali, yang menekankan kemerahan bibir mereka dan rambut mereka yang gelap. Baca terus untuk mengetahui mengapa mereka memakai tata rias ini dan apa artinya dalam budaya Jepang.

    The Geisha

    Seorang Geisha adalah wanita penghibur dan artis yang eksistensinya sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu di Jepang. Secara tradisional, mereka tampil dan menemani bangsawan Jepang yang kaya raya, dan akan meraih status mereka setelah proses pelatihan yang melelahkan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Terdapat sekelompok geisha, dan mereka adalah kelompok dengan derajat tertinggi, yaitu berada di Gion Kobu, Pontocho, distrik Kamishichiken di Kyoto. Pemula geisha atau yang disebut maiko harus berlatih keras selama bertahun-tahun sebelum mencapai peringkat yang lebih tinggi untuk menjadi seorang geisha sejati, dan untuk memulainya, anak-anak perempuan Jepang mulai berlatih sejak berusia 15 tahun.

    Latihan keras tersebut membentuk cara menari, bernyanyi, bermain alat musik, dan bercengkrama dengan tamu mereka dengan cara sempurna. Di masa lalu, Geisha sering menjadi sasaran untuk dianiaya, dipenjara, atau dipekerjakan sebagai wanita simpanan. Saat ini, hal-hal tak bermoral tersebut untungnya telah tiada dan yang tersisa adalah sebuah komunitas profesional Geisha tradisional yang menawarkan hiburan hebat di restoran yang elegan.

    Menghabiskan waktu dengan geisha yang asli bukanlah hal yang mustahil hingga hari ini. Beberapa restoran di daerah Kyoto, Gifu, dan Tokyo menawarkan pengalaman bersantap sekaligus bermain “Asobi” (permainan) dengan Geisha, di mana mereka juga akan mengobrol dengan Anda, menuangkan minuman Anda, dan membuat Anda merasa diterima. Ini adalah kesempatan besar untuk melihat penghibur menawan dan cantik ini dari dekat.

    Alasan dibalik tata rias putih geisha

    Asal-usul tradisi unik ini bisa dilihat di negara Cina. Selama Periode Heian (794 sampai 1185 M.), budaya Tionghoa sangat berpengaruh di Jepang. Ini termasuk tren dan praktik kecantikan. Wanita tuna susila China mengenakan tata rias putih tebal dengan maksud agar wajah mereka dapat terlihat dalam ruangan yang redup, terutama jika mereka ingin tampil atau menghibur bangsawan.

    Tentu saja, pada periode tersebut tidak ada pencahayaan buatan untuk memperjelas wajah atau gambar, hanya ada cahaya lilin. Baik wanita penghibur Cina dan geisha memakai tata rias putih dan menciptakan tampilan wajah yang sangat putih bak porselen, untuk tujuan menciptakan ekspresi mereka akan tampak menonjol dan mudah terlihat dengan jelas bahkan pada cahaya yang redup. Hal ini sangat penting karena wanita Geisha terutama menghibur, menari dan bernyanyi untuk tamu mereka hingga malam hari. Hal ini sangat penting agar wajah mereka dapat terlihat dan dikenali.

    Meski sekarang praktik ini tidak lagi diperlukan dengan teknologi modern dan efek pencahayaan saat ini, geisha modern masih melanjutkan metode ini seperti yang terjadi pada aspek tradisional dari penampilan geisha lainnya seperti memakai kimono dan aksesorisnya.

    Kesalahpahaman umum

    Saat ini, kita hidup di dunia di mana efek pencahayaan dan filter-filter menarik dapat diakses oleh semua orang dengan smartphone. Kita bisa memotret wajah kita yang terlihat lelah dan kusam menjadi terlihat sangat segar dan tanpa cela. Untuk alasan ini, mungkin yang lupa bahwa sampai tata rias masih dibutuhkan untuk menciptakan penampilan tertentu.

    Ini mungkin menjelaskan mitos seputar riasan putih tebal dan tidak wajar yang digunakan oleh wanita eisha, baik di masa lalu dan sekarang. Satu teori yang umum adalah bahwa orang-orang Jepang mengagumi kulit putih alami wanita Eropa, jadi riasan geisha ini seharusnya bisa dicoba untuk mendapatkan tampilan yang sama. Sangat mudah untuk mencapai kesimpulan ini, karena produk kecantikan modern Jepang kebanyakanmengandung pemutih yang dirancang untuk membuat kulit orang Jepang tampak lebih pucat. Preferensi untuk memutihkan kulit ini benar-benar mencuat setelah Perang Dunia II, saat kosmetik Barat diimpor ke Jepang dan menetapkan standar kecantikan bagi wanita Jepang untuk diikuti. Anda mungkin akan terkejut saat mendengar bahwa daya tarik dengan kulit pucat muncul lama setelah makeup putih gadis Geisha menjadi norma.

    Tren ini mungkin juga dianggap kontroversial, pasar kosmetik Jepang penuh dengan masker pemutih, fondasi berwarna pucat, dan bahkan pil yang bisa diminum agar tampak lebih putih. Hal ini tidak hanya lazim di Jepang, tapi juga di negara-negara Asia lainnya seperti Cina dan Korea Selatan. Hal ini terlihat ekstrim dan ketinggalan jaman,serta ironis bagi orang Barat karena orang Barat cenderung mengupayakan kulit mereka agar tampak lebih kecoklatan dan akan menghabiskan banyak waktu dan uang untuk membuat kulit mereka lebih eksotis di salon kecantikan.

    Namun, terlepas dari standar kecantikan orang Barat tersebut, setidaknya tata rias wajah putih geisha memang benar-benar digunakan untuk tujuan yang jelas dan praktikal, bukannya ingin terlihat lebih keeropaan.

    Inilah fakta menarik lainnya tentang Geisha. Pakaian Geisha bisa dibilang sederhana dan mereka tidak menunjukkan banyak bagian-bagian seperti kaki, dada, atau bahkan bahu. Namun, tengkuk leher terlihat jelas di kimono geisha tradisional. Tengkuk leher dikatakan sebagai salah satu bagian tubuh wanita yang paling indah, dan meskipun sekarang masih dipraktikkan sebagai salah satu dari tradisi, banyak yang berargumen bahwa bagian belakang leher ditunjukkan agar menarik hasrat tamu pria.

    Dimana dan cara bertemu geisha di Jepang

    Bagi wisatawan di Jepang yang ingin bertemu dengan geisha sejati dan melihat penampilannya seperti menari, bernyanyi, dan mengajak Anda bermain dalam permainan tradisional dengan profesional, ada beberapa tempat yang populer dan terdepan di mana Anda dapat melakukannya dengan mudah, asalkan Anda tidak keberatan mengeluarkan uang ekstra. Atau jika Anda tidak keberatan, andalkan keberuntungan Anda dan suatu saat berharap untuk bertemu mereka di suatu tempat secara gratis.

    Mungkin tempat yang paling banyak dikenal dimana Geisha sering muncul adalah daerah di Kyoto yang disebut distrik Gion. Di Hanami-koji Street, Anda bisa melihat geisha dan maiko (geisha dalam masa pelatihan), berpakaian lengkap, berjalan-jalan untuk menuju ke tempat tamu mereka berada dan mempersiapkan pertunjukan geisha disana. Namun tolong diingat, meskipun tidak apa-apa untuk pergi “berburu geisha”, seperti yang kebanyakan orang katakan, beberapa penduduk setempat mungkin tidak akan menunjukkan rasa hormat kepada turis yang tanpa henti mencoba mengambil foto mereka atau menghalangi geisha yang sibuk menjalani hari mereka. Memang sangat mudah untuk merasa bersemangat dan mencoba mendapatkan foto yang sempurna, tapi tolong perhatikan bahwa mereka sedang dalam masa bekerja dan tidak boleh diganggu.

    Ada juga pilihan untuk pergi ke sejumlah restoran kaiseki, beberapa di antaranya menyediakan masakan tradisional Jepang dan pertunjukan geisha. Meskipun malam dengan hiburan geisha dan maiko tidaklah murah, ini adalah satu-satunya cara untuk benar-benar menyaksikan pertunjukan geisha dan menghargai latihan besar yang menyertai musik, tarian, dan keramahan mereka, dan segala keeleganan dari riasan dan gaya rambut mereka yang rumit. Bersiaplah saat geisha terus-menerus mengisi gelas Anda, mengajak bermain, serta memberi pertunjukan yang cantik dan sangat menyenangkan!

    Seperti kebanyakan orang, saya pernah memegang keyakinan bahwa geisha mengenakan makeup putih karena pengaruh Eropa dan preferensi untuk kulit yang lebih cantik. Namun, sekilas kembali sejarah telah memberikan penjelasan yang jauh lebih logis untuk tren ini yang mungkin kita salah paham selama ini. Apa pendapat Anda tentang kulit putih pucat dari seorang geisha? Menurut Anda apakah itu indah, atau menurut Anda mereka harus meninggalkan tradisi ini sekarang karena riasan yang memantulkan cahaya tidak diperlukan lagi?