Cerita Menyeramkan dari Jepang tentang Hantu Teke Teke

  • BUDAYA
  • Apakah anda takut gelap?

    Setiap kebudayaan mempunyai cerita hantu dan dongeng menyeramkan. Ketika saya masih kecil, saya dan saudara laki-laki saya biasanya duduk di depan api unggun atau perapian di rumah dan bercerita tentang cerita-cerita yang menyeramkan.

    Dongeng yang menyeramkan dan cerita hantu dapat menampakkan budaya suatu daerah dan masyarakat dimana cerita tersebut berasal. Daripada menulis satu artikel dengan berbagai cerita yang berbeda, saya akan meninjau ulang sekumpulan cerita yang berbeda dari satu artikel tersebut dan membahas kisah satu per satu secara mendalam. Kali ini merupakan kisah tentang Teke Teke.

    Legenda

    Suatu malam, Satoshi pulang dengan berjalan kaki menuju rumah. Sekolahnya dengan jadwal yang begitu padat baru saja usai, dan ini hampir pukul 10 malam. Ketika ia melewati suatu tempat, ia melihat seorang gadis cantik di atas sebuah bangunan yang terbengkalai. Gadis itu bersandar di jendela, dengan siku menopang pada bingkai jendela. Ia memandang Satoshi ke bawah, penghinaan dan rasa iri hati tersembunyi dalam mata gadis itu.

    Tiba-tiba saja, gadis tersebut melompat dari jendela. Satoshi merasa terkejut namun tidak dapat melakukan apapun kecuali hanya melihatnya terjatuh. Ketika gadis itu mendarat di tanah, Satoshi segera menyadari sesuatu yang menyeramkan. Gadis itu hanya memiliki separuh badan. Setengah bagian tubuhnya yang bawah seperti terpotong oleh sesuatu.

    Satoshi pun mengingat bahwa ia pernah mendengar berita tentang tragedi yang baru-baru ini terjadi, dimana seorang gadis secara tidak sengaja terdorong dari peron kereta dan jatuh ke rel kereta. Kereta pun melindas tubuhnya menjadi dua bagian, dan menyebabkan gadis itu meninggal.

    Namun saat ini, gadis tersebut ada disini, di depan Satoshi. Satoshi melihatnya menyeret tubuhnya mendekati Satoshi, dengan sebuah sabit besar di satu tangannya. Saat gadis itu meluncur menuju Satoshi dengan siku dan cakar seperti tangan, suara “teke teke” terdengar bergema di sekitarnya.

    Sebelum Satoshi dapat bergerak, gadis itu mendorong sikunya, mengayunkan sabit besar tersebut pada bagian tengah tubuh Satoshi. Satoshi merasakan sabit itu merobek tubuhnya, dan segera ia tak dapat merasakan apapun lagi. Ketika ia terbaring di tanah, kegelapan meliputinya, ia melihat wajah penuh kebencian gadis tersebut melayang-layang di atasnya. Tatapan penuh kemenangan berkelebat. Itu hal terakhir yang dapat Satoshi lihat…

    Versi alternatif

    Terdapat versi alternatif lainnya. Dalam versi hantu Teke Teke ini, ia bernarna Kashima Reiko, dan bergentayangan di kamar mandi setelah jatuh ke rel kereta api. Jika ia melihat korbannya di kamar mandi, ia akan mengacungkan sabit besarnya, dan bertanya kepadanya, “Dimana kakiku?” Jika korbannya menjawab dengan salah, ia akan memotong tubuh sang korban menjadi dua. Namun jika menjawab, “Di Jalur Meishin.” Ia mungkin akan tetap membiarkan korbannya hidup.

    Asal muasal

    Teke Teke merupakan sebuah onryo atau roh yang penuh dendam. Saya tidak dapat menemukan dokumen asal dari legenda Teke Teke, namun legenda onryo berasal dari sekitar abad ke-8 dan berlanjut menjadi berbagai bentuk cerita.