4 Alat Musik Tradisional yang Sering Digunakan oleh Geisha

  • BUDAYA
  • TRADISIONAL
  • Selain seni tradisional lainnya seperti menulis dan membaca puisi, merangkai bunga, upacara teh dan kaligrafi, geisha juga dituntut untuk mahir dalam bernyanyi dan menari. Mereka dilatih sebagai musisi dan artis yang memberi hiburan lembut dan berselera tinggi untuk para klien.

    1. Shamisen 三味線

    Shamisen, sebuah instrumen senar Okinawa yang mirip seperti gitar berbadan kecil, diperkenalkan ke dalam dunia geisha pada abad ke-18. Instrumen ini pertama kali dibawa dari Cina pada abad ke-16. Seperti namanya, instrumen ini memiliki 3 senar dan dipetik atau diketuk dengan plektrum kayu yang relatif besar yang disebut bachi 撥. Pernahkah Anda bertanya mengapa musik tradisional Jepang selalu terdengar murung dan sedih, mengalir dengan melankolis? Hal ini karena hanya minor ketiga dan keenam yang digunakan major memiliki efek sebaliknya dan terdengar lincah bersemangat dan lebih hidup. Seorang geisha mempraktekan sebuah gaya lagu pendek yang disebut kouta 小唄 sejak ia masih menjadi maiko (geisha junior), membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menguasainya. Gaya lagu digunakan dalam bentuk lain dalam teater seperti bunraku 文楽 atau kabuki 歌舞伎 adalah nagauta 長唄, atau lagu panjang, dan terdengar jauh lebih kuat dibandingkan dengan musik geisha yang lembut.

    2. Koto 箏

    Koto adalah instrumen nasional Jepang, dan memiliki 2 jenis: 13 senar dan 17 senar. Senar-senar ini terpasang kencang oleh jembatan yang dapat dilepas ketika menyetel instrumen tersebut. Plektranya adalah pik jari, digunakan di ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah. Instrumen ini juga berasal dari Cina, di saat abad ke-7. Seorang geisha terlihat sangat menawan berlutut sembari memainkan koto. Daya tarik mereka, kecerdasan dan bagaikan jiwa bebas yang disandingkan dengan kesenduan musik. Tidak dapat dipungkiri jika para pria begitu terpesona.

    3. Shakuhachi 尺八

    Shakuhachi adalah seruling bambu yang datang di sekitar waktu yang bersamaan dengan koto, namun dihidupkan kembali di zaman Edo. Instrumen ini juga digunakan oleh biksu Zen Budha dalam bermeditasi, dikenal sebagai suizen 吹禅. Instrumen ini memiliki 4 lubang pada bagian depan dan satu di bagian belakang, dan beresonansi dengan perasaan kesendirian dan ketenangan saat dimainkan. Sebuah shaku 尺 adalah sebuah unit untuk mengukur yang setara dengan 30.3cm, dan sepersepuluh sebuah saku adalah sebuah sun 寸. Nama Shakuhachi berasal dari panjangnya: 1 shaku dan 8 sun.

    4. Tsuzumi 鼓

    Tsuzumi, atau shouko, memiliki asal dari Cina dan India, dan sangat mirip seperti drum kesukuan. Instrumen ini memiliki bentuk jam pasir dan 2 kepala drum dengan tali yang dapat disesuaikan yang mungkin digunakan untuk menekan kepala drum untuk mengubah nada saat dimainkan. Instrumen ini juga digunakan dalam bentuk lainnya dalam teater Jepang, serta musik daerah yang disebut min-you 民謡. Tsuzumi yang bernada lebih rendah dimainkan di pundak, berkebalikan dengan tsuzumi besar, yang dimainkan di samping.