9 Novel Kontemporer Jepang Terbaik untuk Pecinta Budaya Jepang

  • BUDAYA
  • Apakah Anda mencintai budaya unik Jepang? Tahukah Anda kalau Jepang penuh dengan hal-hal unik yang berbeda dari belahan dunia lainnya mulai dari film, musik, hingga norma-norma umumnya. Beberapa dari Anda mungkin juga akrab dengan sastra Jepang modern.

    Kapanpun istilah novel Jepang disebutkan, maka orang akan berpikir tentang Haruki Murakami dan mungkin Banana Yoshimoto juga. Dalam daftar berikut ini, tentu saja terdapat karya Haruki Murakami dan Banana Yoshimoto, tetapi selain kedua penulis tersebut, pernahkah Anda membayangkan ada berapa banyak penulis berbakat yang dimiliki oleh Jepang? Menurut pendapat saya, penulis Jepang memiliki kemiripan yang sama yaitu kemampuan mereka yang tak tertandingi dalam mengubah sebuah suasana yang benar-benar biasa di kehidupan sehari-hari kita menjadi sesuatu yang luar biasa melebihi kata-kata, yang bahkan tidak bisa kita gambarkan secara jelas atau bayangkan.

    *Novel berikut ini terdaftar secara acak dan tidak memiliki ranking!

    1. The Changeling oleh Kenzaburo Oe (2000)

    Seorang tokoh besar, dan seorang penulis sastra kontemporer Jepang berbakat yang dianugerahi penghargaan Nobel Sastra pada tahun 1994.

    Seperti novel Oe lainnya, The Changeling (Perubahan) dipengaruhi oleh penulisan sastra gaya Amerika-Perancis yang dimilikinya. Novel ini berisi tentang hubungan antara dua seniman berbakat, Goro Hanawa dan Kogito Choko. Goro adalah seorang pembuat film terkenal, dan Kogito adalah seorang novelis berusia enam puluhan (karakter ini mengingatkan saya kepada diri Oe sendiri), meskipun hubungan mereka renggang selama beberapa dekade, sebuah cara berkomunikasi, satu set rekaman yang diberi nama “Tagame” dibuat oleh Goro dan dikirimkan kepada Kogito sebelum ia melakukan bunuh diri. Kogito menggunakan rekaman itu untuk mencari tahu mengapa Goro membunuh dirinya sendiri.

    Novel ini memiliki empat ratus halaman yang ditulis dengan bahasa yang simple tetapi elegan. Jadi, novel ini bukanlah novel yang sulit untuk dibaca meskipun Oe memiliki gaya menulis yang intelektual. Oe membawa karakter-karakter di novelnya (dan juga pembacanya) ke dalam sebuah situasi dimana mereka mempertanyakan diri mereka sendiri tentang arti hidup dan mati, serta bagaimana sudut pandang kita tentang masa lalu yang mengendalikan masa depan. The Changeling adalah sebuah bacaan yang lamban dan konsisten namun indah.

    2. Colorless Tsukuru Tazaki and his Years of Pilgrimage oleh Haruki Murakami (2013)

    Semua orang tahu tentangnya, seorang penulis kontemporer yang memenangkan penghargaan buku terlaris internasional, Haruki Murakami! Anda mungkin tahu bahwa Haruki Murakami telah dipengaruhi oleh budaya Barat terutama dalam bidang musik dan sastra, dan ia memasukkan semua hobi dan pengalaman masa lalunya ke dalam novel dan kepribadian karakter-karakter didalamnya. Satu fakta tambahan yang Anda mungkin tidak tahu tentang karya-karyanya, selain tema, adalah hampir semua novelnya memiliki judul yang mengingatkan kita pada musik klasik Barat.

    Kali ini, Haruki menceritakan kisah tentang Tsukuru Tazaki, seorang pria muda yang di dalam grup teman-teman sekolahnya memiliki satu-satunya nama tanpa kanji yang berkaitan dengan warna. Padahal, kanji dari nama teman-temannya mengandung semua unsur warna seperti merah, biru, putih dan hitam. Tiba-tiba, selama di universitas, ia (Tsukuru Tazaki) ditinggalkan oleh teman-temannya yang tiba-tiba berhenti menghubunginya. Tazaki yang kemudian dihantui oleh rasa kehilangan yang besar, memulai perjalanan ke masa lalu yang diperlukan untuk memperbaiki masa kini.

    Digambarkan sebagai “mudah diterima tetapi sangat kompleks” Colorless Tsukuru Tazaki and his years of Pilgrimage merupakan sebuah cerita tentang persahabatan, cinta dan patah hati untuk semua umur. Beberapa dari Anda mungkin menyukainya, dan beberapa dari Anda mungkin tidak. Banyak yang menyukai sebetulnya karena buku ini telah terjual lebih dari satu juta kopi di minggu pertama buku ini dijual di Jepang, jadi mengapa tidak mencoba membacanya?

    3. Kitchen oleh Banana Yoshimoto (1988)

    A post shared by Innershelf (@innershelf) on

    Banana Yoshimoto (吉本ばなな) adalah nama pena dari Mahoka Yoshimoto, seorang penulis kontemporer Jepang. Yoshimoto adalah seorang wanita praktikal dan misterius (tersembunyi) yang menyimpan kehidupan pribadinya untuk dirinya sendiri dan lebih memilih untuk berbicara mengenai tulisannya.

    Kitchen (Dapur) merupakan novel panjang pertama Yoshimoto dan kesuksesannya membawa Yoshimoto pada penghargaan Izumi Kyoka untuk bidang sastra. Novel ini juga diadaptasi ke dalam sebuah film sukses yang dibuat oleh direktur film dari Hongkong, Yim Ho. Novel ini menceritakan sebuah kisah tentang seorang tokoh protagonis muda, Mikage yang harus mengatasi rasa kehilangan atas neneknya dan dalam waktu yang bersamaan harus tinggal bersama dengan teman dan ibunya yang transgender. Mika mencoba untuk melewati kegelapan yang ada dalam hidupnya. Tema utama novel ini adalah cinta, rasa keibuan dan tragedi.

    Setiap bagian dari kisah Mikage berpusat pada kematian dari satu orang atau lebih dan cara mereka meninggal membentuk narator dan karakter lainnya dan membantu mereka untuk melewati perjalanan mereka sendiri.

    4. Audition oleh Ryu Murakami (1997)

    Ryu Murakami adalah seorang novelis, pembuat film, dan ahli ketegangan psikis Jepang. Karya Murakami diklaim sebagai sastra bergaya baru karena buku-bukunya tidak bisa secara mudah diklasifikasikan sebagai horor atau ketegangan psikis tetapi mereka lebih berkaitan dengan hal-hal mengganggu, obat-obatan, dll. Novel terlarisnya adalah Almost Transparent Blue (Hampir Biru Transparan), In the Miso Soup (Di Dalam Sup Miso) dan Audition (Audisi).

    Audition dimulai dengan kecepatan yang cukup pelan dan mendayu. Novel ini menceritakan tentang Aoyama, seorang pembuat film dokumenter yang tidak pernah berkencan dengan siapapun selama 7 tahun sejak kematian istrinya. Ia memutuskan untuk mencari pendamping baru melalui sebuah audisi film palsu dimana ia benar-benar bertemu dengan gadis impiannya, Asami. Ia cantik, memiliki masa lalu yang bergolak dan mencintai Aoyama tanpa ragu. Tetapi cinta dan kegilaannya terhadap Asami telah membutakan Aoyama untuk melihat kebenaran yang mengerikan dibalik topeng Asami.

    Novel ini menggelisahkan dibagian akhir saja, tetapi saya yakin detailnya akan menghantui Anda, sama seperti yang Anda pikirkan ketika membayangkan sebuah cerita horor. Film Takashi Miike, Audition (1999) didasarkan pada novel ini dan filmnya luar biasa, hal ini jugalah yang menjadi salah satu alasan mengapa novel ini menjadi novel favorit saya, bukannya In the Miso Soup yang kebanyakan orang pikir adalah novel terbaik Murakami!

    5. Never Let Me Go oleh Kazuo Ishiguro (2005)

    Kazuo Ishiguro adalah novelis Inggris berdarah Jepang dan ia masih memiliki nama Jepangnya sendiri! Yang bisa saya ungkapkan tentang Ishiguro bahwa ia adalah pria dengan banyak penghargaan, empat novel pertamanya memenangkan setidaknya satu penghargaan dan keempatnya merupakan novel yang sangat laris.

    Never Let Me Go (Jangan Biarkan Aku Pergi) adalah sebuah novel fiksi ilmiah dystopia tentang sebuah sekolah asrama eksklusif yang terletak di pedesaan Inggris dimana tempat ini memiliki aturan ketat dan misterius, dan guru-guru di sekolah ini terus menerus mengingatkan murid mereka betapa istimewanya mereka dan memaksa mereka untuk mematuhi aturan dan terus menjaga kesehatan diri mereka sendiri.

    Beberapa tahun kemudian, Kathy salah seorang murid telah menjadi seorang wanita muda. Teman-teman lamanya dari asrama tersebut, Ruth dan Tommy kembali masuk ke dalam kehidupannya dan untuk pertama kalinya, ia mulai melihat kembali masa lalu yang mereka lalui bersama dan memahami apa yang membuat mereka istimewa dan bagaimana hal ini akan mempengaruhi sisa waktu mereka bersama.

    Never Let Me Go (Jangan Biarkan Aku Pergi) masuk dalam daftar pendek untuk penghargaan Booker 2005, penghargaan Arthur C. Clarke 2016 dan penghargaan National Book Critics Circle 2005.

    Novel ini memiliki nada bahasa percakapan. Tetapi penulisannya santai dan lembut, novel ini menimbulkan banyak pertanyaan dan membantu Anda untuk menyelami kegagalan kehidupan manusia.

    6. 1Q84 oleh Haruki Murakami (2010)

    Novel ini benar-benar panjang, yaitu lebih dari sembilan ratus halaman. Tetapi, jangan melewatkan cerita cinta, misteri, fantasi dan novel mencari jati diri, dan sebuah dystopia dari dunia imajinasi Haruki Murakami.

    Ada sebuah hubungan paralel di novel ini yang disebut dengan 1Q84, yaitu huruf Q mewakili ‘sebuah tanda tanya.’ “Sebuah dunia yang menimbulkan tanya” yang dibuat oleh Aomame, seorang wanita muda yang tinggal di Tokyo, yang mengikuti saran seorang sopir taksi dan mulai mencari tahu apa yang terjadi disekitarnya.

    Dan disini kita punya Tengo, seorang penulis yang sedang mengerjakan sebuah proyek ghoswriting (orang yang mengarang/menulis untuk orang lain) yang mencurigakan. Entah bagaimana, ada banyak peristiwa aneh yang menghubungkan karakter-karakter berikut ini bersama: seorang gadis cantik dengan sudut pandang yang unik, seorang penganut agama yang taat, seorang polisi metropolitan, serta seorang janda kaya yang mengelola tempat penampungan bagi wanita korban pelecehan dan sebagainya.

    Jujur saja, buku ini bukanlah buku yang mudah dibaca (ya, tidak hanya karena buku ini memiliki sembilan ratus halaman), tetapi karena cara Haruki menulis banyak cerita, dan perspektifnya tentang seksualitas, jenis kelamin, dan bentuk tubuh wanita bisa membuat frustrasi pembacanya. Tetapi, jika Anda sudah membaca karyanya yang lain seperti Sputnik Sweetheart (Kekasih Sputnik) atau A Wild Sheep Chase (Perburuan Domba Liar), maka novel yang satu ini menjadi tantangan untuk Anda!

    7. Byakuyakou Journey under the Midnight Sun oleh Keigo Higashino (1999)

    Keigo Higashino mulai menulis novel ketika bekerja sebagai seorang insinyur, tetapi setelah ia memenangkan penghargaan Edogawa Rampo untuk menulis, ia berhenti dari pekerjaannya dan memulai karir sebagai seorang penulis. Keigo Higashino dikenal dengan bakatnya dalam menulis novel misteri.

    Meskipun terkenal dengan novel misterinya yang laris, novel-novel karya Keigo Higashino tidak pernah memiliki banyak plot atau detail yang berliku-liku. Yang membuatnya luar biasa adalah teknik yang ia gunakan untuk membentuk narasi dan pemikiran psikologis karakternya.

    Di dalam novel ini, 19 tahun yang lalu seorang pemilik toko pegadaian dibunuh di Osaka dan beberapa tersangka bisa dengan mudah diidentifikasi. Tetapi kasus ini tetap belum terpecahkan karena kurangnya bukti yang mendukung. Meskipun Ryoji Kirihara, putra dari korban dan Yukiho Karasawa, anak perempuan dari salah satu tersangka sepertinya tidak memiliki hubungan satu sama lain, namun kejahatan-kejahatan misterius selalu terjadi disekitar mereka.

    Dengan teknik membentuk narasi yang luar biasa, novel ini menjadi menarik dan memikat. Akan lebih baik jika Anda membacanya ketika suasana hati Anda bagus dan saya yakin ketika Anda sudah mulai membacanya, Anda tidak akan berhenti sebelum Anda sampai di halaman terakhirnya. Nostalgia dan perasaan dihantui akan mengikuti Anda selama beberapa waktu. Sebagai bonus, The Devotion of Suspect X (Pengabdian Tersangka X) juga bacaan yang bagus!

    8. Woman on the Other Shore by Mitsuyo Kakuta (2004)

    A post shared by Saori Teraoka (@saoriteraoka) on

    Mitsuyo Kakuta menerima penghargaan Kaien untuk Penulis Baru, satu tahun setelah ia lulus dari universitas dengan karyanya yang berjudul Blissful Pastime (Hobi yang Menyenangkan). Setelah itu, ia memenangkan penghargaan Naoki (dengan Woman On the Other Shore) dan Penghargaan Noma Literary New Face (Penghargaan Noma Wajah Baru Sastra).

    Di dalam novel, Sayoko seorang ibu rumah tangga berusia 35 tahun dan anaknya yang berusia 3 tahun bekerja untuk Aoi, seorang wanita karir dan lajang yang memiliki pemikiran terbuka. Sayoko mendapati dirinya tertarik dengan gaya hidup dan kepribadian Aoi yang mudah bergaul. Keduanya lalu memulai sebuah pertemanan dimana pertemanan ini bagi Sayoko merupakan penegasan kembali apa arti sebenarnya dari hidup. Namun, Aoi bukanlah orang yang selalu memiliki rasa percaya diri seperti bagaimana ia biasa terlihat akibat dari pengalaman masa lalunya yang berkaitan dengan bullying (ejekan/hinaan) dan keluarga yang tidak bahagia.

    Novel ini menggambarkan kehidupan sehari-hari dan kekhawatiran wanita Jepang dalam pernikahan, mengasuh anak, hingga menjadi seorang lajang yang bekerja. Ini merupakan sebuah cerita menyentuh tentang keindahan berbagi dan membuka diri kepada orang lain dan memberi pengaruh kepada rentang pembaca yang luas di seluruh Jepang.

    9. The Windup Bird Chronicle by Haruki Murakami (1995)

    Tori Okada, seorang pria muda mencari kucing istrinya yang hilang. Namun ia mendapati dirinya mencari istrinya di dunia yang terletak di bawah permukaan Tokyo. Seiring berlanjutnya pencarian, Okada bertemu dengan sekelompok karakter yang aneh, baik teman maupun antagonis (musuh). Contohnya, seorang kupu-kupu malam yang memiliki kemampuan psikis (ilmu kebatinan), politisi mediagenik (politisi yang suka menebarkan kesan baik di depan media), seorang gadis ceria berusia enam belas tahun yang kurang waras, dan seorang veteran perang yang menua.

    Mohon maaf karena saya menulis karya Haruki Murakami lainnya. Menurut pendapat saya, Murakami adalah salah satu penulis kontemporer yang bisa menggambarkan masyarakat Jepang dan norma-norma sosial mereka dengan cukup baik, meskipun kadang-kadang karyanya cukup eksentrik dan tajam.

    Jika Anda bertanya-tanya mengapa tidak ada nomor 10 di daftar ini, ini karena saya memberikan ruang kepada Anda untuk memilih novel Jepang favorit Anda berikutnya!

    *Featured Image: jp.fotolia.com/