Kemiripan dan Perbedaan Antara Jepang dan Cina

  • BUDAYA
  • SOSIAL
  • Jika Anda adalah seorang guru TEFL (Teaching English as a Foreign Language) yang tinggal dan bekerja di Jepang, kemungkinan besar mengajar bukanlah profesi pertama Anda. Di masa lalu, para ekspatriat dapat menghasilkan uang sebagai guru bahasa tanpa kualifikasi atau pengalaman mengajar di CV mereka. Namun, sekarang semuanya berbeda, posisi pertama guru TEFL akan ditentukan oleh tingkat kualifikasi mereka. Sudah umum bahwa mendapatkan pekerjaan sebagai pengajar di Jepang lebih sulit daripada di negara-negara Asia lainnya karena perusahaan Jepang membutuhkan kualifikasi yang lebih tinggi untuk staf tingkat pemula, atau beberapa tahun pengalaman mengajar, itulah sebabnya mengapa banyak guru TEFL di Jepang sebelumnya telah berpengalaman mengajar di negara lain.

    Jika seperti saya yang memiliki pengalaman mengajar pertama di Cina, lalu berhijrah Jepang, Anda mungkin dibombardir dengan pertanyaan dari teman dan keluarga Anda seperti “Jadi, apakah Cina dan Jepang itu mirip?”, “Yang mana yang lebih kau sukai?” dan “Apa perbedaan Cina dan Jepang?” Saat masih kanak-kanak, saya yakin bahwa Jepang dan Cina sama persis, maksud saya, keduanya berada di sisi dunia yang lain bagi saya, oleh karena itu keduanya benar-benar asing bagi saya. Namun salah! Meskipun ada beberapa kesamaan, ada juga beberapa perbedaan yang cukup mencolok antara dua negara Asia ini. Beberapa di antaranya akan saya uraikan di sini berdasarkan pengalaman pribadi saya.

    Polusi dan tingkat kebersihan

    Bukan rahasia lagi bahwa kota-kota besar di Cina adalah tempat yang paling tercemar di dunia dan belum lama ini, Jepang bisa saja memiliki kejadian yang serupa. Namun, salah satu perbedaan yang paling saya perhatikan dari Cina dan Jepang adalah betapa bersihnya udara di Jepang. Masih ada saat-saat ketika udara tercemar oleh polusi, terutama di jalan-jalan besar di kota-kota besar. Tetapi secara keseluruhan, lingkungan yang bersih adalah salah satu hal yang paling saya sukai saat hidup di Jepang.

    Kebersihan umum juga merupakan standar yang jauh lebih tinggi di Jepang. Di Cina, Anda hampir tidak bisa berjalan di jalan kapan saja, siang atau malam tanpa menabrak seorang petugas kebersihan jalan yang membersihkan kotoran di trotoar. Saya jarang melihat petugas kebersihan di jalanan Jepang karena masyarakatnya berusaha keras untuk tidak membuang sampah sembarangan dan mendaur ulang semua yang mereka bisa, sehingga mereka tidak mengonsumsi secara berlebihan.

    Biaya

    Sebagai negara berkembang, Cina jelas lebih murah dari sudut manapun, mulai dari harga sewa rumah, tagihan listrik, makan di restoran, kebutuhan belanja, teknologi, semuanya jauh lebih murah daripada di Jepang. Namun, harga murah juga dapat ditemukan di negeri matahari terbit, dan semuanya tergantung pada tempat tinggal Anda. Tinggal di Tokyo akan menguras dompet Anda jika dibandingkan dengan tinggal di kota kecil atau pinggiran kota.

    Makanan

    Saya tidak cocok dengan makanan di China. Bukannya saya pikir makanannya tidak enak, makanannya lezat, namun perut saya sering memberontak setelah memakannya. Bahkan tanpa tinggal di provinsi Sichuan (provinsi yang terkenal dengan mekanan pedasnya), saya menemukan bahwa makanan Cina terlalu pedas untuk saya. Di atas semua itu, mereka terlalu banyak menggoreng makanan ke dalam kuali penuh minyak, serta kecenderungan untuk menggunakan bahan-bahan berkualitas rendah hanya membuat acara makan-makan menjadi sebuah mimpi buruk. Berbeda dengan Jepang. Negara makanan-makanan yang menakjubkan. Saya tidak hanya menyukai sushi hanya karena kelezatannya yang luar biasa, tetapi apa yang benar-benar saya hargai di Jepang adalah kualitas makanannya. Semuanya begitu bersih, begitu segar, dipersiapkan dengan baik dan disajikan dengan indah. Tidak noda di sana-sini bahkan di jajanan kaki lima pun serasa makan di restoran mewah. Yang terbaik dari semuanya adalah pergi ke restoran Cina lokal di Jepang, yaitu makanan Cina, tetapi dengan bahan-bahan berkualitas baik yang disiapkan dengan cara yang bersih dan sehat. Surga.

    Tingkat kebisingan

    Orang-orang di Cina sangatlah riuh. Tidak hanya berisik, mereka juga senang bergosip tanpa akhir. Orang Cina suka bersenang-senang dan berbicara keras. Mereka berpesta seakan ini adalah akhir dari dunia, seperti mereka menabung seumur hidup, lalu digunakan untuk bersenang-senang bagai hari ini adalah hari terbaik dalam hidup mereka saja. Cina adalah tempat yang riuh, tidak ada ada tawar menawar dalam hal ini. Jepang juga riuh, namun dengan cara yang berbeda. Sementara orang-orangnya cenderung tidak mengeluarkan suara, Anda masih dikelilingi oleh suara-suara. Suara lampu lalu lintas yang berkedip-kedip saat Anda menunggu untuk menyeberang, mesin penjual otomatis yang bernyanyi, emporium konsumerisme terang benderang yang terus-menerus dibanjiri oleh kombinasi musik jazz dan pop modern.

    Tetapi secara keseluruhan, saya menemukan bahwa Jepang adalah tempat yang lebih tenang. Sementara banyak suara-suara buatan yang keluar dari setiap toko sepatu dan di setiap peron kereta bawah tanah, ada saat-saat dimana tidak ada suara, dan telinga saya tersiksa secara konstan. Jadi, untuk menjawab pertanyaan yang sering ditanyakan, mana yang lebih baik? Nah, selain dari poin-poin yang saya ungkap di atas, ada begitu banyak alasan untuk mencintai (dan tak menyukai) Jepang dan Cina. Saya bisa memilih mana negara favorit saya, tapi saya pikir lebih mudah untuk mengatakan bahwa ada hal-hal untuk dikagumi dari kedua negara ini. Semuanya tergantung pada preferensi pribadi Anda.