Mari Tonton Anime Tersedih Sepanjang Masa : Grave of the Fireflies

  • BUDAYA
  • SOSIAL
  • Anime sering dianggap sebagai hal yang remeh, kekanak-kanakan bagi orang luar, namun bagi siapa saja yang telah menonton beberapa film anime bagus akan mengetahui bahwa anime terbaik adalah yang lebih realistik, lebih rumit dan memiliki tema yang dewasa daripada mayoritas kebanyakan kisah nyata yang biasa saja.

    Dan salah satu yang paling menyentuh dari semua anime dan juga salah satu yang paling menyedihkan yang pernah Anda tonton adalah: Ghibli Klasik “Grave of the Fireflies” atau “Kuburan Kunang-kunang.”

    Alur kisah

    Grave of the Fireflies berlatar di Kobe, Jepang selama musim panas di jaman perang dunia ke dua. Alkisah ada seorang anak SD dan adiknya yang berusia 4 tahun Setsuko. Pada saat itu pesawat terbang Amerika menyerang secara agresif penduduk Jepang lewat serangan bom dari udara. Ibu mereka menjadi salah satu korban bersama dengan rumah Seita dan Setsuko yang hancur, memaksa kedua bersaudara itu menumpang tinggal di bibi jauhnya.

    Bibi mereka menampung mereka, namun karena jatah makanan semakin menipis dan kehiudpan menjadi lebih sulit, bibi mereka mulai menampakan kekesalan terhadap dua bersaudara ini karena dianggap membebani keluarganya. Akhirnya, karena tidak tahan dengan sikap bibinya, Seita membawa adiknya keluar dari rumah dan tinggal di tempat perlindungan yang terbengkalai di dekatnya. Namun, bagi mereka mencoba bertahan hidup sendiri sangatlah sulit, sehingga Seita terpaksa mencuri makanan dan menjarah rumah. Adik perempuan Seita akhirnya didiagnosa terkena gizi buruk dan meninggal tak lama kemudian, diikuti oleh kematian Seita sendiri beberapa hari kemudian setelah pendudukan Amerika terjadi.

    Sebuah makna lebih dalam

    Luciola cruciata

    Film ini digambarkan sebagai salah satu film anti perang terbaik yang pernah dibuat, meskipun sang pembuat film dan beberapa tanggapan audien mungkin merasa jika menjadi film anti peperangan bukanlah maksud dari film ini. Itu lebih merupakan sebuah komentar sosial dari kerapuhan hubungan manusia selama masa-masa sulit, dan bagaimana isolasi orang-orag yang tidak berdaya menyebabkan kematian mereka.

    Sejak perilisian film ini, stasiun televisi sering menampilkan pemutaran film ini sebagai tradisi tahunan setiap 15 Agustus, hari dimana Kekaisaran Jepang menyerah kepada pasukan sekutu. Film ini menjadi pengingat yang kuat bukan hanya dari penderitaan orang-orang Jepang dalam perang (yang masih menajdi topik sensitif), tetapi juga dampak nyata dari perang terhadap kemanusiaan. Keadaan buruk yang terjadi di dunia, merupakan tema dari kisah ini.

    *Featured Image: jp.fotolia.com/