3 Hal Penting yang Harus Dilakukan Ketika Menghadiri Pemakaman Jepang

  • ETIKA
  • Pemakaman atau soushiki (葬式) di Jepang biasanya berpusat pada adat Budha. Tepat setelah meninggalnya orang tercinta, keluarga akan mengadakan upacara pemakaman di kuil, aula pemakaman, atau di rumah orang yang telah meninggal selama dua hari berturut-turut. Hari pertama adalah melakukan “otsuya (お通夜),” dimana keluarga, kerabat, teman, dan kolega datang bersama untuk menghabiskan malam dan memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal. Hari berikutnya adalah pemakaman itu sendiri yang disebut “kokubetsushiki (告別式),” dimana orang akan mengucapkan selamat tinggal terakhir kepada orang yang telah meninggal, setelah tubuhnya di kremasi. Di kedua harinya, biksu Budha hadir untuk membacakan doa.

    Berikut tiga hal penting yang harus diingat ketika menghadiri pemakanan Jepang:

    1. Memakai pakaian yang pantas

    Orang yang menghadiri pemakaman diharapkan datang dengan pakaian hitam polos. Pria harus memakai setelan hitam dengan kemeja putih dan dasi hitam, wanita harus datang dengan gaun hitam polos atau kimono. Makeup berlebihan dan aksesoris, kecuali perhiasan sederhana dan cincin kawin, tidak diperbolehkan untuk digunakan. Bahkan, sepatu, tas, dan sampai payung harus berwarna hitam, dan tidak mewah yang akan menarik perhatian orang yang menggunakannya. Siswa diizinkan untuk memakai seragam sekolahnya.

    2. Memberikan uang duka cita

    Memberikan uang bela sungkawa, juga termasuk adat untuk memberikan uang tunai kepada orang yang telah meninggal yang disebut “koden (香典),” yang ditempatkan pada “kodenbukuro (香典袋),” sebuah amplop putih khusus dengan pita hitam dan perak atau putih. Jumlah uang yang diberikan berkisar dari 3.000 sampai 30.000 yen (jangan 4.000 yen karena angka 4 dianggap sebagai pertanda buruk), tergantung pada hubungan orang yang berkabung dengan orang yang telah meninggal dan keluarganya.

    Sebagai gantinya, keluarga akan memberikan sebuah “kodengaeshi (香典返し),” yang merupakan tanda terimakasih atas kehadiran dan kebaikan tamu selama masa-masa sulit keluarga. Jumlah kodengaeshi biasanya setengah atau kurang dari jumlah koden yang diterima.

    3. Memperhatikan perilaku yang tepat

    Seperti negara lainnya, tamu akan memberikan simpati kepada keluarga yang ditinggalkan. Untuk mengucapkan belasungkawa dalam bahasa Jepang, orang biasa mengatakan “Kono tabi wa makoto ni goshushosama desu,” atau “Okuyami moshiagemasu.”

    Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, biksu Budha akan melantunkan doa, dimana tamu diharapkan untuk mendengar, tenang, dan diam. Beberapa tamu mungkin diminta untuk berdoa dan menyalakan dupa.

    Bahkan, ketika diminta untuk bergabung dengan keluarga untuk makan atau minum, tamu harus menerima undangannya. Jangan makan dengan berlebihan dan mengganggapnya sebagai perayaan atau pesta. Sebagai tambahan, saat bersulang gunakan kata “kenpai” bukan “kanpai,” yang biasanya dikatakan saat bersulang pada acara yang menggembirakan.

    Menaruh perhatian pada adat istiadat di pemakaman adalah salah satu hal penting yang harus kita lakukan, terutama di Jepang dimana etiket sangat diperhatikan. Norma ini penting untuk diikuti, begitu juga memberikan belasungkawa kita kepada keluarga yang ditinggalkan. Karena setiap negara memiliki pandangan dan kebiasaan yang berbeda tentang kematian, janganlah malu untuk bertanya pada orang setempat dan lakukan tata krama yang sepantasnya. Intinya, pemakaman merupakan upacara yang serius sehingga perlu diperlakukan dengan hormat.