Ternyata Orang Jepang Sangat Menyukai Gorengan!

  • MAKANAN
  • SELURUH NEGERI
  • Jepang memiliki banyak kesamaan dengan Indonesia sebagai sesama negara Asia. Salah satu yang cukup menurut saya mencengangkan adalah kesukaan masyarakat dari kedua negara terhadap sebuah makanan, yaitu gorengan!

    Gorengan di Jepang

    s

    Pertama, saya terkejut karena ternyata orang Jepang sangat suka makanan yang digoreng. Setiap restoran, baik itu yang bertema Jepang, Italia, Cina, atau Spanyol, tampaknya mempunyai versi kara-age (gorengan) tersendiri. Pada dasarnya, kara-age adalah ayam goreng yang biasanya menggunakan potongan daging paha berukuran kecil yang diasinkan dan dilapisi dengan katakuriko (tepung kanji) atau adonan bumbu rumahan. Biasanya, cairan pengasam ini terbuat dari soyu atau kecap asin, bawang putih, dan/atau jahe. Tetapi, restoran Italia mungkin akan menggunakan komposisi yang berbeda. Untuk memberi cita rasa Italia, mungkin kara-age akan disajikan dengan tomat atau saus daun basil.

     

    View this post on Instagram

     

    KARAAGE & French fries. 今日は唐揚げ!を久しぶりに作ってみました。この間のイベント以来かな?唐揚げはもちろんレモンで! . いつも思うんですが「唐揚げにレモンかけるかけない」よく言いますが、あれかけるだけで足ります?ぼくはかけるというより、浸すというか、焼き肉のレモンみたいに、取り皿を用意して、そこにレモン汁いれて浸して食べるのが好きです。なので、唐揚げにレモンをかけるかけないじゃなくて、浸したい!っていつも思います。皆さんはどうでしょう? . . お皿はSOROI @soroi_jp のUSURAI。このピンクの器、使いやすいですよ! 今なら @chips_inc さんのオンライン限定でアウトレットセールやってますので、お手頃価格で買う事が出来ます!この機会にぜひ! . . No local No food おいしく楽しく! . . #唐揚げ #karaage #とりあえず野菜食 . #ellegourmet#lunch#brunch#breakfast#foodporn#instagramjapan#vsco#IGersJP#onthetable#ランチ#おうちカフェ#うちごはん#暮らし#フーディーテーブル #cooking#homemade#おうちごはん#朝ごはん#japanesebreakfast#f52grams

    A post shared by Toshihiro Ueki (@utosh) on

    Banyak orang mungkin hanya mengenal tempura sebagai gorengan dari Jepang, tanpa menyadari jenis-jenis gorengan lainnya. Sekarang, mungkin menu makanan di restoran Jepang yang berada di luar negara Jepang menjadi lebih bervariasi.

    Gorengan lain yang banyak dijual di teishoku-ya (restoran cepat saji Jepang) dan kissaten (kedai kopi Jepang) adalah tonkatsu. Tonkatsu adalah stik daging babi yang dicelupkan dalam telur atau adonan, kemudian dibaluri dengan tepung roti lalu digoreng. Tonkatsu biasanya disajikan dengan saus tonkatsu, atau saus miso jika Anda berada di daerah Aichi. Ada pula udang goreng berlapis roti yang mirip dengan tonkatsu, namanya ebi-furai. Mungkin di Indonesia sama seperti chicken nugget yang biasa dibuat di rumah, dan juga bakwan goreng.

    Tonkatsu (dengan bentuk yang sedikit berbeda dibandingkan versi biasanya )

    Makanan goreng yang wajib disebutkan selanjutnya adalah kroket, yaitu semacam perkedel yang berbentuk bulat atau oval, yang dilapisi tepung roti dan digoreng. Jenis kroket yang paling umum terbuat dari kentang yang dihaluskan dan dicampur dengan berbagai bahan seperti daging cincang, bawang merah atau sayuran lainnya. Persis seperti perkedel di Indonesia! Ada pula yang namanya kani kurimu kurokke atau kroket krim kepiting. Ketika Anda menggigitnya, saus becamel yang ada di dalamnya meleleh keluar dan rasa kepitingnya akan memenuhi mulut Anda.

     

    View this post on Instagram

     

    #croquette #japanesefood #hawaii

    A post shared by Alicia Jang (@shinyjangu) on

    Kroket krim kepiting versi restoran Italia

     

    Selain yang disebutkan di atas, Anda juga bisa menemukan izakaya (bar Jepang) yang khusus menyajikan semacam sate yang digoreng atau kushikatsu. Izakaya tersebut menyajikan makanan tusuk yang berbeda-beda seperti sayuran, daging, telur, keju yang dibalut dengan tepung panir dan kemudian digoreng. Di sana terdapat saus tradisional yang mana Anda hanya diperbolehkan untuk mencelupkan kushikatsu ke dalamnya sekali saja karena saus yang ada di dalam wadah tersebut juga digunakan oleh pengunjung lain.

    Perasaan saya mengatakan bahwa di Jepang, Anda akan menemukan lebih banyak orang makan makanan goreng dibandingkan apa yang Anda bayangkan sebelumnya! Di Jepang, semua orang mulai dari anak-anak hingga orang tua, dari pelajar hingga pekerja tampaknya menyukai gorengan. Terlebih lagi, gorengan-gorengan ini juga tak jarang dijual di pinggir jalan, sama seperti di Indonesia. Meskipun rasanya mungkin akan jauh berbeda, setidaknya hal ini mungkin akan mengurangi rasa kangen kita dengan Indonesia.