Apa yang Dapat Diharapkan Ketika Berkencan dengan Pria Jepang

  • BUDAYA
  • SOSIAL
  • Pernakah Anda berpikir apa yang diharapkan ketika berkencan dengan seorang pria Jepang? Baiklah, untuk memulainya, saya bukan orang Jepang ataupun besar di Jepang, jadi saya sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang budaya, karakteristik dan perilaku mereka. Namun, terlepas dari hal itu, saya dan kekasih Jepang saya sudah bersama dalam waktu yang lama, jadi, saya akan membagikan beberapa hal yang saya temukan atas pengalaman pribadi saya berkencan dengan orang Jepang. Seperti yang kita ketahui bahwa hubungan lintas budaya dapat berhadapan dengan banyak tantangan dan isu.

    Menunjukkan kemesraan

    Menunjukkan kemesraan didepan umum atau PDA (Public display of affection) – berpegangan tangan, berpelukan dengan kasih sayang tidak diperbolehkan di mata publik. Saya suka ciuman dan pelukan, siapa yang tidak suka? Tetapi sayangnya, di Jepang jika Anda berada di tempat umum atau setidaknya terdapat kehadiran orang lain, menunjukkan kemesraan adalah sama sekali tidak diperbolehkan! Kembali ketika kita sedang berada di Filipina, saya biasanya akan memegang tangannya atau menempel di lengannya, tetapi ketika kita sudah di Jepang saya secara tidak sengaja menggandeng tangannya dan secara tiba – tiba ia menjadi terganggu dan memperingatkan saya bahwa hal tersebut tidak baik untuk dilakukan di tempat umum. Saya selalu dimarahi tentang hal ini.

    Gila kerja

    Tidak ada yang salah dengan kerja keras tetapi bukanlah hal baik jika bekerja secara berlebihan. Kekasih saya bekerja selama 12 jam dalam sehari dan hanya mendapat 1 hari libur tiap minggunya. Hal ini mambuatnya kehilangan kesempatan untuk berlibur dan mencari hiburan, serta ini termasuk hal yang menyedihkan menyedihkan mengingat bahwa ia seringkali melewatkan acara spesial keluarga. Kadang ia harus tinggal di kantor beberapa jam lebih setelah jam pulang jika atasannya masih disana, yang menurutnya adalah bagian dari budaya menghormati atasannya.

    Minum alkohol seperti tidak ada hari esok

    Satu hal yang paling menguji kesabaran saya adalah kebiasaan minum. Hal ini menjadi bagian dari rutinitas di kantor yang mana setelah bekerja, mereka pergi ke suatu tempat untuk minum. Di sini adalah tempat di mana mereka biasanya berdiskusi tentang beberapa masalah dan isu yang belum diselesaikan di dalam kantor. Menolak undangan minum dari atasan mungkin akan mempengaruhi hubungannya dengan atasan sehingga dia tidak pernah bisa mengatakan tidak karena ini akan berdampak pada karirnya.

    Manis

    Pria Jepang itu terlahir manis…errr!! Sayangnya, mereka tidak! Saya tidak dapat mengingat terakhir kali kekasih saya memberikan bunga atau benda romantis lainnya, tetapi ketika berurusan dengan tanggung jawab dan kebaikan, saya tidak dapat meminta lebih banyak lagi. Pria Jepang adalah pemberi nafkah yang baik dan akan memikul semua biaya rumah tangga, tetapi jangan harap mereka akan memberikan usaha lebih untuk bersikap manis.

    Namun, sifat dan karakteristik tersebut adalah bagian dari diri kekasih saya, jadi satu-satunya pilihan yang saya miliki saat ini adalah memahami dan menerimanya sebagai bagian dari cara mencintainya. Sebenarnya, perbedaan budaya yang kita miliki dapat menjaga kebersamaan kita dan kita dapat menganggapnya sebagai petualangan yang menantang sepanjang perjalanan cinta dan sejujurnya saya berpikir, itu sama saja dengan hubungan mana pun, terlepas dari budaya. Lagi pula, tidak ada hubungan yang sempurna dan kesempurnaan adalah hal yang membosankan!