Dilarang! 10 Hal yang Pantang Anda Lakukan Saat Berada di Jepang

  • ETIKA
  • SOSIAL
  • TRADISIONAL
  • Setiap negara memiliki hal-hal yang tabu, aturan, dan batasan budayanya tersendiri. Hal ini mungkin berbeda antar negara ataupun benua. Norma sosial Barat mungkin terlihat normal bagi orang Barat itu sendiri, tapi akan terlihat sangat aneh bagi orang yang berada di belahan dunia lainnya.

    Perbedaan mencolok ini dapat membuat suatu “kejutan budaya” atau culture shock bagi para wisatawan atau ekspatriat yang berpindahan ke berbagai belahan dunia. Tentu saja, “kejutan budaya” ini telah diteliti dan terbukti sebagai proses yang dapat memberi banyak kesulitan bagi banyak orang.

    Jepang, seperti yang diketahui oleh banyak orang, merupakan negara yang terkenal unik dalam aturan-aturan budaya dan dengan harapan dari warganya terhadap masyarakatnya sendiri. Banyak wisatawan dari seluruh dunia pada dasarnya sangat waspada terhadap fakta ini dan sangat berhati-hati dalam mematuhi beberapa adatnya ketika datang ke Jepang. Tapi hal ini kadangkala bisa menjadi kendala.

    Masyarakat Jepang tahu aturan-aturan yang tak tertulis ini karena mereka telah mempelajarinya sejak kecil. Bahkan dari sekolah dasar, anak-anak di Jepang telah diajarkan bagaimana cara-cara mengikuti begitu banyaknya aturan dan norma-norma budaya, sehingga setelah beranjak dewasa, perilaku mereka telah menjadi sifat alami.

    Bagaimanapun juga, orang-orang asing tidak terlalu mengetahui aturan-aturan ini, dan seringkali para wisatawan harus mendapatkan penjelasan terlebih dahulu. Anda akan sering melihat ketika seseorang melanggar sebuah “aturan” di tempat umum, mereka akan mendapatkan tatapan yang kurang menyenangkan dari orang-orang sekitar. Akan tetapi, sebelum berkunjung, Anda dapat meluangkan waktu untuk mempelajari kumpulan daftar dari sepuluh hal berikut yang pantang Anda lakukan ketika berada di Jepang.

    Berikut adalah hal-hal yang sangat tidak baik dilakukan di Jepang, dan beberapa cerita-cerita lucu dari orang-orang yang pernah mengalaminya sendiri!

    1. Bersentuhan Secara Berlebihan

    Di banyak budaya, mungkin banyak orang telah terbiasa untuk mencium pipi atau paling tidak berpelukan sebagai tanda salam ketika sedang bersapaan. Terutama di Eropa, mungkin masyarakat Eropa cenderung untuk berbaur dan saling bersentuhan, tetapi di beberapa kota di Jepang, hal ini mungkin merupakan suatu hal yang tidak biasa bagi masyarakat Jepang.

    Akan tetapi, hal ini mungkin agak berbeda di daerah Kansai, terutama di Osaka, dimana masyarakat Jepang cenderung lebih banyak melakukan kontak tubuh daripada orang-orang dari daerah Jepang lainnya. Anda dapat melihat para remaja dan siswa-siswa saling bersentuhan di tempat umum, gadis-gadis berpegangan tangan, dan teman-teman yang saling berpelukan. Bagi saya, hal ini sangatlah biasa, dan sementara itu saya berpikir, “Baiklah, ternyata sama saja seperti di negara saya!”.

    Lain halnya dengan di Tokyo, semuanya sangat berbeda disana. Pernah saya sekali menepuk seorang rekan kerja di bahunya (seperti yang saya lakukan di Osaka) dan ia hanya memandang sinis terhadap saya, seakan saya seorang pelaku kejahatan!

    Jika Anda merasa aneh bila suatu budaya memilih untuk tidak menggunakan kontak tubuh dalam interaksi sehari-hari, pikirkanlah perbedaan cara antara kita dan orang Jepang sewaktu memberi salam. Dalam budaya barat, berjabatan tangan merupakan sebuah cara bersapaan yang sudah diterima dengan luas baik secara pribadi maupun di lingkungan kerja.

    Dengan kata lain, di budaya Barat, ketika Anda pertama kali bertemu dengan seseorang, Anda akan memperkenalkan diri melalui sentuhan atau kontak fisik. Tergantung pada negaranya, bentuk paling umum sewaktu memberi salam kepada orang lain mungkin adalah dengan cara memeluk atau mencium pipi.

    Semua orang tahu cara bersalaman dengan membungkukkan badan yang terkenal di Jepang. Untuk melakukannya dengan benar, Anda paling tidak harus berada dalam jarak 1 meter dari orang lain untuk menandakan batas area pribadi Anda.

    Tentunya, dalam hubungan pertukaran diplomatik, orang Jepang juga akan berjabatan tangan, tetapi reflek untuk membungkukkan badan membuatnya menjadi canggung karena mereka akan membungkukkan badan sekaligus sambil berjabatan tangan. Ketika saya melihatnya, saya penasaran apakah kedua orang ini akan saling berbenturan!

    Pada dasarnya, akan lebih baik untuk menunggu sampai Anda menjadi teman baik dengan seseorang sebelum menyentuh mereka. Jika hal itu terjadi tanpa sengaja, mereka mungkin akan memahaminya karena Anda adalah orang asing, tapi mereka juga mungkin akan merasa canggung atau tidak enak.

    2. Tata Krama Menggunakan Sumpit

    Siapa yang pernah berpikir akan ada hal tabu yang berhubungan dengan alat makan? Jika Anda pergi ke Jepang dan memilih untuk makan makanan lokal, jangan berharap Anda akan mendapat alat makan lainnya di meja selain sumpit. Meskipun Anda ahli dalam menggunakannya atau mungkin hanya pemula, ada beberapa hal-hal yang harus Anda ingat mengenai penggunaan sumpit yang benar!

    1. Jangan menggigit/menjilat sumpit

    Seberapa sedap makanan yang sedang Anda ingin nikmati, menjilat atau menggigit sumpit merupakan hal yang tidak sopan dan tidak dapat diterima. Hal ini dapat dijelaskan karena masyarakat Jepang sangat menghargai kebersihan.

    Sumpit dilihat sebagai alat makan yang menjadi pemisah antara tangan dan mulut, sehingga kontak langsung menjadi minimal dan kemungkinan untuk terkena infeksi atau bakteri juga menjadi lebih minim.

    Restoran, kedai dan tempat-tempat minum di Jepang umumnya terkenal dengan kebersihannya, dan dijamin bahwa semua sumpit dicuci dan dibersihkan dengan baik. Bagaimanapun juga, pastikan untuk tidak menggigit, atau menjilat sumpit Anda karena pastinya Anda akan mendapat tatapan tidak menyenangkan dari orang sekitar Anda!

    2. Jangan menancapkan sumpit ke nasi

    Sumpit yang dipernis itu sangat licin dan Anda hampir tidak bisa untuk meletakkannya ketika sedang berhenti sejenak sewaktu makan. Tapi harap berhati-hati, dan jangan pernah menancapkan sumpit dengan posisi tegak di mangkuk nasi Anda. Hal ini karena ketika ada yang meninggal, orang Jepang akan meletakkan semangkuk nasi dengan sumpit yang tertancap di dekat kepala orang yang sudah meninggal itu.

    Nasi yang diletakkan di dekat kepala orang yang meninggal menyerupai makam zaman dahulu ketika penguburan jenazah masih menjadi kebiasaan di Jepang. Sumpit (hashi dalam bahasa Jepang) adalah jembatan (juga adalah hashi dalam bahasa Jepang) yang dilalui oleh arwah jenazah untuk masuk ke surga. Sekarang Anda dapat memahami mengapa menancapkan sumpit di piring nasi akan membuat semua orang merinding.

    3. Jangan memberikan makanan dari sumpit Anda ke sumpit orang lain

    Kita masih dalam pembahasan mengenai pemakaman. Inilah yang mereka lakukan di pemakaman, tulang belulang bekas kremasi akan dipindahkan dari tangan keluarga satu ke lainnya dengan menggunakan sumpit khusus. Jadi, jangan pernah lakukan hal ini dengan makanan. Ini akan membuat semua orang ketakutan.

    3. Melakukan Panggilan di Dalam Kereta

    Semua orang tahu bagaimana masyarakat Jepang sangat disibukkan dengan aturan, terutama aturan ketika sedang berada di dalam kereta dan juga tempat umum lainnya. Terdapat beberapa pengumuman yang disampaikan secara teratur ketika berada di dalam kereta tentang bagaimana Anda harus berperilaku dalam perjalanan, termasuk di antaranya tata krama dalam menggunakan ponsel di dalam kereta. Dalam beberapa kasus lain, Anda akan mendengar pengumuman untuk mematikan ponsel tepat setelah anda menaiki kereta, atau sebagian orang langsung menyalakan moda ‘sopan’ (yang berarti moda getar dalam ponsel) sehingga Anda tidak akan menganggu rekan seperjalanan Anda.

    Tentunya percakapan melalui ponsel selama di dalam kereta tidak termasuk di dalamnya. Selama 4 tahun di sana, saya hanya pernah melihat satu orang (‘gyaru’, perempuan modis) yang menelfon ketika sedang menaiki transportasi umum. Mengirim pesan singkat ketika sedang berada di dalam kereta juga kurang disukai, namun selama percakapan tersebut tidak terlalu bising dan tidak mengganggu orang di sebelah Anda, orang lain tidak akan menegur Anda untuk hal itu.

    Suatu hari saya sedang berkunjung dari Nara ke Kobe, dan saya menaiki kereta lokal (secara tidak sengaja), dan dihadapkan dengan perjalanan panjang di depan saya, sehingga membuat saya ingin mendengarkan musik-musik yang bagus. Lima menit setelah saya memasang earphone, ada seorang kondektur yang menegur dan mengatakan bahwa saya kasar dan meminta saya untuk segera mematikan musik dari iPhone saya.

    Saya melihat sekeliling, sedikit bingung karena semua penumpang lain mendengarkan musik, tetapi menyembunyikan ponsel mereka. Dan kemudian saya menyadari bahwa saya berada di dalam gerbong bebas-telepon, dan bahwa saya memperlihatkan iPhone untuk mendengarkan musik adalah hal yang benar-benar bodoh. Jadi, berhati-hatilah menggunakan ponsel Anda ketika berada di kereta/bus. Dalam situasi ekstrem, mereka bahkan dapat memaksa Anda membayar denda.

    4. Kanan atau Kiri?

    Berbicara tentang kereta api, Jepang terkenal dengan jam-jam sibuk mereka yang cenderung ‘gila’. Pernahkah Anda berpikir bagaimana gelombang besar manusia dapat datang tepat waktu untuk bekerja, padahal ketika melihat kerumunan di depan Anda, Anda merasa ingin pergi saja? Ya, itu karena ada aturan tertentu yang dihormati setiap saat, dan satu orang yang mengabaikan aturan tersebut bisa menyebabkan kekacauan. Dan banyak sekali amarah.

    Saya berbicara tentang etiket untuk menggunakan eskalator. Merupakan hal yang lumrah dalam semua budaya untuk membiarkan satu sisi eskalator bebas sehingga orang yang tergesa-gesa dapat naik/turun. Di Tokyo misalnya, orang akan berdiri di sisi kiri, sehingga sisi kanan akan bebas bagi orang untuk berjalan.

    Di Kansai, hal tersebut berbanding terbalik. Bayangkan jika Anda hanya berdiri di sisi yang salah (katakanlah di sisi kanan sementara Anda seharusnya di sebelah kiri). Bayangkan Anda tidak menyadarinya pada waktu yang tepat dan Anda memperoleh barisan orang yang marah di belakang Anda, mungkin menyalahkan Anda karena mereka terlambat tiba di tempat kerja mereka

    Lebih baik aman daripada menyesal, dan agar tidak mengganggu mekanisme ‘sempurna’ yang memungkinkan orang untuk bepergian begitu cepat dan dengan cara yang sangat teratur, berdiri di sisi kiri eskalator di Tokyo, dan di sebelah kanan di Osaka, Kobe, Nara, dan kota-kota lain di Kansai. (Saya masih menyarankan Anda untuk melihat-lihat dengan cermat dan melihat apa yang dilakukan masyarakat setempat, karena bagaimanapun juga, meniru apa yang dilakukan orang lain adalah cara yang paling aman!)

    5. Memberikan Tip

    Ini adalah aspek lain yang sangat penting dari budaya Jepang. Dalam masyarakat Barat, kita cenderung melihat pemberian tip sebagai apresiasi kepada pelayan yang menyajikan makanan dan bersikap baik kepada kita. Dalam beberapa kasus ada restoran yang secara jelas menentukan bahwa servis dari pelayan tidak termasuk di dalam harga, jadi Anda perlu memberikan tip kepada staf/pelayan.

    Ini tidak terjadi di Jepang. Pelayan dan upah pelayan selalu termasuk dalam harga, apakah Anda berada di restoran atau menggunakan taksi. Bahkan, meninggalkan tip kepada pelayan acapkali dianggap sebagai hal yang sangat tidak sopan.

    Sebagian besar waktu, dia mungkin akan berlari setelah Anda berpikir bahwa Anda membayar terlalu banyak dan dia harus memberi Anda kembalian. Hal yang sama berlaku untuk supir taksi. Mereka akan memberi Anda uang kembalian sampai yen terakhir, dan jika Anda merespon: “Tidak apa-apa, simpan saja kembaliannya”, hal tersebut hanya akan mempermalukan pengemudi Anda.

    Pada dasarnya, memberi tip bukanlah sebuah hal umum yang dilakukan di Jepang, dan menjadi perbedaan yang sangat mencolok antara budaya Jepang dan Barat. Mencoba memberikan tip mungkin merupakan sikap yang Anda anggap baik, tetapi itu akan membuat kebingungan dan rasa malu bagi semua yang terlibat. Cara terbaik untuk menunjukkan rasa terima kasih Anda adalah hanya dengan mengatakan, ‘arigato‘.

    6. Bersin

    Internet sarat dengan banyak gambar orang Jepang yang memakai masker setiap kali mereka pilek/memiliki alergi, dll. Menurut Anda, mengapa mereka melakukan hal ini? Ingat pernyataan saya bahwa budaya Jepang sangat peduli dengan kebersihan? Itulah jawabannya.

    Fokus pada kebersihan yang baik inilah yang menyebabkan orang Jepang harus menggunakan masker saat mereka pilek. Itu karena mereka sangat sadar bahwa ketika mereka bersin, mereka dapat menyebarkan bakteri, dan di samping itu, mereka dapat menangkap kuman lain dari lingkungan sekitarnya, yang karena kekebalan yang rendah akan membuat flu mereka menjadi lebih buruk. Pintar bukan?

    Karena itu, jika Anda terkena flu di Jepang, Anda tahu apa yang harus dilakukan. Membeli sebungkus masker dari toko obat terdekat adalah langkah pertama! Tetapi apa yang terjadi jika Anda bersin dan perlu membuang lendir? Atau jika lubang hidung Anda seperti menunjukkan air terjun Niagara? Dalam kedua situasi tersebut, apa pun yang Anda lakukan, jangan membuang lendir di depan umum!

    Sangat tidak sopan untuk bersin di depan umum, dan juga tidak higienis. Ini pada dasarnya memberitahu semua orang di sekitar Anda “Saya tidak peduli, saya akan menulari kalian semua”. Satu-satunya pilihan yang Anda miliki adalah pergi ke toilet dan bersin di sana, di kabin pribadi, tanpa takut menulari orang lain.

    Atau, Anda bisa terisak-isak jika Anda tidak bisa ke kamar mandi dengan cepat ketika Anda perlu bersin. Itu merupakan hal yang dapat diterima, meskipun mungkin terdengar sedikit menjijikkan jika Anda terus melakukannya. (Tapi sekali lagi itu bukan masalah bagi masyarakat Jepang, selama Anda terisak di balik topeng, orang-orang tidak akan mengernyitkan muka kepada Anda).

    7. Makan Ketika Berada di Luar

    Makan di tempat umum mungkin merupakan salah satu aturan tidak tertulis di Jepang yang paling ditoleransi. Ini tentu saja tidak melanggar peraturan dan Anda tidak akan menemukan ini secara tertulis di mana pun. Namun, makan di tempat umum seringkali masih dianggap tabu dalam banyak situasi.

    Sebagai contohnya, memakan makanan ketika sedang menaiki transportasi umum seringkali masih kurang disukai. Alasan tersebut juga berlaku untuk makanan yang berbau dan mungkin mengganggu orang lain, menjatuhkan makanan di kursi atau di lantai, dan pada dasarnya mengganggu orang lain karena mengunyah dengan keras! Anda akan melihat di Jepang bahwa kereta, stasiun, dan jalan-jalan pada umumnya sangat bersih, dan ini mungkin bisa menjelaskan mengapa hal tersebut dapat terjadi.

    Namun, jika Anda makan di tempat umum, biasanya Anda hanya akan diabaikan dan orang lain tidak akan memberitahukan Anda secara langsung. Tetapi jika Anda ingin menyesuaikan diri dan membantu menjaga jalanan dan tempat-tempat umum sebersih mungkin, mungkin merupakan ide yang baik untuk mencoba membiasakan diri untuk tidak makan saat berada di tempat umum.

    Anda mungkin memperhatikan orang-orang yang berdiri di depan toserba memakan onigiri atau sandwich mereka. Anda akan berpikir bahwa mereka terlihat seperti sedang terburu-buru, jadi mengapa mereka tidak berjalan dan makan saja? Ya, itu karena ini merupakan hal yang sama sekali tidak diterima oleh Masyarakat Jepang.

    Jadi apa yang Anda lakukan jika Anda benar-benar lapar dan baru saja membeli sesuatu untuk dimakan? Tidak apa-apa jika Anda berhenti di suatu tempat, makan dengan cepat, dan lanjutkan perjalanan Anda!

    Perhatikan bahwa ini tidak berlaku untuk matsuri (festival) Jepang ketika ada banyak kedai makanan di mana Anda dapat membeli apa pun dari mie yakisoba hingga sosis. Dalam hal ini, sangat dapat dimaklumi untuk makan sambil berjalan. Meski begitu, saya perhatikan bahwa orang Jepang biasanya akan tetap berhenti di daerah yang kurang ramai dan menghabiskan makanan mereka, jadi mengapa tidak melakukan hal yang sama? Bagaimanapun, makan dan berjalan adalah pasangan yang mematikan untuk perut Anda!

    8. Melepaskan Sepatu Anda

    Melangkah ke ruang tamu rumah Jepang dengan masih mengenakan sepatu mungkin akan menyebabkan sang pemilik rumah kesal terhadap Anda. Saya tidak melebih-lebihkan tentang ini! Pemilik rumah kemungkinan tidak akan setuju dengan ini, dan mereka terpaksa untuk memberi tahu Anda sesuatu yang tidak perlu dikatakan di Jepang: ‘lepaskan sepatu Anda di lorong’.

    Dalam budaya Amerika dan Barat, sangat normal untuk berjalan di sekitar rumah dengan sepatu Anda. Bahkan tidak apa-apa untuk naik ke tempat tidur tanpa melepasnya. Saya tidak pernah benar-benar memahami bagaimana ini dapat dilihat sebagai hal yang normal, bahkan sebelum saya pergi ke Jepang, meski bagaimanapun, setiap budaya memiliki aturan dan norma sendiri!

    Di Jepang, hal tersebut mungkin adalah salah satu hal yang paling tabu. Anda pergi ke rumah Jepang, mereka membiarkan Anda masuk, dan di genkan (lorong kecil sebelum ruang utama), Anda diharapkan untuk melepas sepatu Anda. Pastikan Anda membiarkannya di genkan, dan dengan ujung sepatu menghadap keluar. Ini hanyalah aturan lain yang tidak diucapkan, tetapi Anda terbiasa melakukannya dengan sangat cepat jika Anda melihat orang Jepang melakukannya. Dalam beberapa minggu atau bulan, hal ini akan menjadi hal yang alami!

    Hal yang sama berlaku untuk sebagian besar restoran Izakaya. Anda akan melihat banyak kotak sepatu di dekat pintu masuk, dan itulah bagaimana Anda tahu apa yang seharusnya Anda lakukan, bahkan jika tidak ada orang di sekitar untuk memberi tahu Anda.

    Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa harus ribut sekali tentang sepatu? Nah, rumah tradisional Jepang memiliki lantai tatami yang harus dibersihkan dengan tangan. Seperti yang Anda ketahui, di Jepang Anda akan duduk di lantai di atas zabuton, dan selimut (kasur dan semuanya) juga diletakkan di lantai tatami.

    Juga, cuaca Jepang bisa sangat mengesalkan dengan hujan dan lumpur, jadi coba bayangkan bahwa jika semua orang masuk ke rumah dengan sepatu berlumpur dan berjalan di atas tatami yang menyebarkan banyak noda, bayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membersihkannya. Selain itu, apakah Anda ingin duduk dan tidur di lantai di mana semua orang berjalan dengan sepatu mereka?

    Sekarang, saya mengacu pada kamar tradisional Jepang, tetapi lantai tatami menciptakan budaya menjaga rumah dan lantai yang bersih dan rapi sehingga memengaruhi mental dan kebiasaan orang Jepang. Saat ini, bahkan di apartemen paling bergaya Barat, mereka masih akan mengikuti aturan yang tak terucapkan ini!

    Kalau dipikir-pikir, itu bukan sesuatu yang seharusnya tidak kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari di mana pun kita berada. Anda dapat menjaga rumah Anda tetap bersih, dan pada saat yang sama memberi istirahat pada kaki Anda agar tidak dibatasi oleh sepasang sepatu sepanjang hari!

    Dengan hal itu, tentunya sudah jelas bahwa Anda tidak dapat menggunakan kaos kaki dengan lubang di dalamnya. Anda benar-benar akan menunjukkan kaus kaki Anda di sebagian besar tempat di Jepang, jadi Anda harus berusaha menjaganya tetap bersih dan rapi!

    9. Lebih Sedikit Lebih Baik, tapi Tidak di Jepang!

    Jika Anda pernah membaca manga atau menonton anime, apa yang akan saya sampaikan sekarang akan terdengar gila. Tetapi dunia animasi, bagaimanapun, adalah fiksi, dan aturan yang berlaku di sana tidak selalu berlaku di dunia nyata.

    Di Jepang, menunjukkan belahan dada, ketiak, ataupun bahu Anda dianggap sebagai hal yang sangat memprovokasi. Tidak peduli seberapa panas hari itu dan berapa banyak gaun strap yang Anda miliki, Anda perlu mencari solusi untuk tidak memakainya namun juga untuk tidak melepasnya.

    Sebagian besar wanita Jepang akan memilih untuk mengenakan t-shirt di bawah gaun mereka dan masalahnya selesai (jika Anda bisa menanggung panas di bawah lapisan pakaian!). Selain itu, menunjukkan belahan dada juga Anda akan langsung membuat Anda menjadi objek perhatian setiap pria dan wanita yang Anda temui. Beberapa mungkin akan berbaik hati dan mengatakan langsung bahwa pakaian Anda tidak pantas, beberapa mungkin hanya menatap Anda, dan mungkin hanya menganggap Anda ingin pamer dan dapat menciptakan pendapat negatif tentang Anda!

    Jadi, apa solusinya? Tergantung pada lingkungannya, belahan dada yang moderat dianggap dapat diterima. Jika Anda berada di perusahaan dan kebijakannya seformal mungkin, pertimbangkan untuk menutupi diri Anda hingga sedikit di bawah leher. Selain itu, menyingkap bahu Anda di lingkungan formal juga sama sekali tidak boleh.

    Di sisi lain, mengenakan rok mikro dan celana super pendek sangat diterima di Jepang. Seaneh mungkin ini terdengar, Anda dapat menutupi tubuh Anda hingga ke leher dan membiarkan kaki/punggung Anda terekspos jelas. Tentu saja, tanpa perlu dikatakan lagi, Anda tidak dapat melakukannya di tempat kerja. Tetapi untuk sekolah, perjalanan, jalan-jalan santai, atau bertemu dengan teman-teman, mengenakan rok pendek dan celana pendek bahkan dianggap sangat normal.

    10. Merokok

    Ini adalah bonus jika Anda menyukai hal semacam ini. Tidak seperti di negara-negara Eropa Barat, di mana merokok di tempat-tempat umum (seperti restoran, bar, pub dan klub) dilarang, di Jepang, undang-undang masih lebih permisif saat ini terhadap hal tersebut. Ini berarti ada area merokok di restoran, Anda dapat merokok secara bebas di sebagian besar pub dan klub, bahkan dapat merokok di banyak area khusus di jalanan.

    Yang terakhir ini sangat penting jika Anda berasal dari negara dimana merokok di tempat umum dianggap hal yang normal. Di Jepang, Anda hanya diperbolehkan merokok di area khusus merokok. Jika Anda melakukannya di tempat lain, Anda mungkin akan mendapatkan denda atau setidaknya dimarahi oleh polisi yang sedang bertugas (bahkan jika Anda tidak melihat mereka, mereka ada di mana-mana).

    Namun, ada sedikit yang perlu diperhatikan, karena secara umum setiap konbini (toko serba ada) memiliki asbak di depan pintu masuk dan berfungsi sebagai area merokok. Jika tidak ada toko serba ada di sekitar, pastikan ada tanda untuk mengarahkan Anda ke tempat terdekat di mana Anda bisa merokok!

    Dalam beberapa hal, beginilah cara Jepang menjaga jalanan bersih dari puntung rokok, dan memastikan bahwa asapnya tidak mengganggu orang yang lewat.

    Ini adalah daftar beberapa hal-hal paling penting yang pantang dilakukan dalam masyarakat Jepang. Anda mungkin ingin mengingat ini sebelum pergi ke Jepang! Beberapa mungkin tampak agak dibuat-buat, tetapi bagaimanapun, selayaknya pepatah, “Ketika di Jepang, lakukan seperti yang dilakukan orang Jepang”, bukan?

    *Featured Image: jp.fotolia.com/