Hal-hal yang tidak disukai Masyarakat Jepang dari Wisatawan Asing – Beberapa Alasan yang membuat Masyarakat Jepang Kesal dan Terganggu oleh Wisatawan Asing

  • BAHASA
  • BUDAYA
  • MACAM-MACAM AREA
  • MACAM-MACAM AREA
  • SOSIAL
  • TATA CARA
  • TOKYO
  • TRAVEL
  • Uncategorized
  • Dengan semakin dekatnya penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020, Jepang mempersiapkan diri untuk menerima banyak wisatawan asing mulai tahun ini. Namun demikian, bersama-sama dengan datangnya masyarakat asing juga terdapat beberapa ketidakpuasan dari Masyarakat Jepang yang diciptakan oleh jumlah wisatawan yang meningkat dari tahun ke tahun.

    Dalam acara TV Jepang bernama ZawaTsuku (ザ ワ つ く), Masyarakat Jepang memperhatikan beberapa hal yang mereka harapkan wisatawan asing untuk berhenti lakukan ketika datang ke Jepang karena itu mengganggu mereka dan juga membawa citra negatif kepada orang asing, serta memiliki pengaruh buruk terhadap orang asing yang bekerja di Jepang karena orang Jepang mungkin mulai membuat stereotip terhadap setiap orang asing dan berpikir bahwa banyak dari mereka cenderung agak kasar dan tidak memperhatikan sopan santun.

    Jadi, berikut adalah beberapa hal yang orang Jepang tidak sukai terhadap turis asing dan berharap mereka dapat  berhenti melakukannya:

    Tempat terkenal dari Slam Dunk: Jalur Kereta Api Enoshima

     

    View this post on Instagram

     

    Finding Hanamichi Sakuragi. 👌 #EJaypan #AnimeSpot #SlamDunkRealLife

    Ejay Mendiguarinさん(@iamejboy)がシェアした投稿 –

    Terdapat stasiun kereta api yang menarik perhatian banyak wisatawan asing di sekitar Enoshima. Di tujuh perhentian oleh Jalur Kereta Api Enoshima (江 ノ 島 電 鉄) juga dikenal sebagai Enoden, antara Fujisawa dan Kamakura, Anda dapat menemukan persimpangan kereta api Kamakura-koko-mae dan banyak orang asing yang mencoba menciptakan kembali adegan terkenal dari salah satu anime dan manga Jepang paling terkenal dari seri bersambung dalam Weekly Shonen Jump.

    SMA Kamakura adalah model untuk SMA Ryonan dalam seri Slam Dunk dan banyak turis yang mencoba untuk menciptakan kembali adegan dimana karakter utama, Hanamichi Sakuragi berdiri di depan kereta api menunggu kereta untuk lewat.

    Manga yang diterjemahkan dalam lebih dari 12 bahasa tersebut (termasuk Inggris, Cina, Spanyol, dll.) mulai ditayangkan pada 1990-an dan bercerita seputar bola basket. Manga ini telah mendapatkan banyak popularitas terutama di Asia dan orang-orang dari seluruh dunia datang ke Jepang untuk ‘ziarah’ anime, beberapa bahkan mengenakan seragam merah yang mewakili warna tim karakter utama, hanya untuk mengambil satu foto di persimpangan kereta api.

    Namun, penduduk setempat akan mengatakan itu adalah 迷惑 (meiwaku) yang berarti ketidaknyamanan bagi mereka karena banyak orang berkumpul di kereta api saat mobil lewat, dan hal tersebut mengganggu lalu lintas.

    Tidak hanya mereka menyebabkan ketidaknyamanan bagi semua orang, tetapi hal ini juga berbahaya karena banyak wisatawan bahkan melompat keluar di jalan ketika mobil sedang bergerak.

    Ada banyak orang yang sangat tertarik tentang manga, anime, tetapi menyebabkan ketidaknyamanan bagi orang lain, dan menyebabkan diri Anda dan orang lain dalam bahaya bukanlah hal Anda harapkan dari kesukaan Anda tersebut.

    Privasi Maiko: Paparazzi Maiko dan Memfoto Tanpa Izin

    Kyoto, tempat yang sarat akan sejarah dan tradisi, pemandangan yang tenteram dengan seorang maiko (geisha magang), menciptakan suasana yang menampilkan ‘inti’ dari Jepang.

    Penuh dengan wisatawan asing dari seluruh dunia, Kyoto telah menjadi area yang sangat penuh oleh lautan manusian dan banyak Masyarakat Jepang tidak puas dan cenderung kesal terhadap sopan santun yang buruk dari wisatawan asing yang membuang sampah sembarangan dan mengganggu keharmonisan kota.

    Yang lebih buruk dari hal tersebut adalah hal yang dikenal sebagai “Paparazi Maiko” (舞妓パパラッチ), yang terus meningkat dan banyak dari wisatawan asing mengambil foto Maiko tanpa izin, bahkan sampai membuntuti wanita-wanita tersebut kembali ke rumah.

    Beberapa wisatawan akan berpura-pura mengambil swafoto dan mendekat ke geisha-geisha tersebut namun kemudian malah mengambil foto mereka atau merekam video dari maiko, atau terlebih parahnya, beberapa wisatawan akan memblokir lalu lintas pejalan kaki di seitar maiko untuk mengambil foto ataupun video.

    Maiko-maiko cenderung takut dan ‘jijik’ terhadap perilaku buruk wisatawan tersebut, dan berharap mereka dapat menghentikan perilakunya, karena terlepas dari negara mana Anda berasal, mengambil foto tanpa izin dan menguntit orang lain adalah hal yang tidak terpuji!

    Shirakawa-go dan Properti Pribadi

    Saya percaya bahwa banyak dari Anda sudah mengenal Shirakawa-go dan kegiatan-kegiatan iluminasi yang diadakan setiap tahunnya. Situs Warisan Dunia UNESCO ini dikunjungi setiap tahunnya oleh banyak wisatawan dan popularitasnya telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir sehingga wisatawan perlu melakukan reservasi untuk mengunjungi pedesaan yang indah ini.

    Rumah-rumah pertanian tradisional gassho-zukuri yang tertutup salju dapat menahan banyak salju lebat dan iluminasi sepanjang musim dingin menawarkan kepada kita lanskap musim dingin yang utopis.

    Namun demikian, seperti yang telah saya sebutkan, gelombang besar wisawatan datang mengunjungi kawasan ini setiap tahun, dan merusak suasana indah tempat ini dengan membuang sampah sembarangan, tidak berperilaku baik atau menunjukkan sopan santun yang kurang.

    Terdapat masyarakat yang tinggal di daerah tersebut, dan beberapa rumah pertanian di sana menjadi properti dari mereka. Akan tetapi, wisatawan asing masuk ke dalam rumah sesuka hati mereka atau dengan seenaknya membuka pintu untuk mengambil foto di dalamnya, dan hal itu bukanlah hal yang baik, jadi harap perhatikan sikap Anda.

    Anda dapat melihat lebih banyak tentang Shirakawa-go dan sistem reservasi baru di artikel di bawah ini:

    Things to do in Shirakawa-go, a Japanese Hidden Village- Starting From 2019 You Need Reservations!

    Sayangnya, karena banyaknya orang yang masuk tanpa izin ke properti pribadi, mengambil foto tanpa permisi, membuang sampah sembarangan, dan memaksa untuk berfoto dengan orang-orang yang mungkin tidak biasa di negara mereka (seperti contohnya gadis yang berpakaian dalam mode Lolita), tidak menjaga toilet tetap bersih, tidak bertanya sebelum mengambil tindakan, dan bersikap tidak sopan, banyak dari wisatawan ini dianggap salah, dan beberapa Masyarakat Jepang bahkan mungkin berpikiran bahwa semua wisatawan asing berperilaku seperti itu, yang menciptakan kesalahpahaman atau pengalaman kurang baik untuk kedua belah pihak.

    Dengan semakin dekatnya penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020, para wisatawan akan meningkat dan saya merasa bahwa kita juga harus berusaha untuk menjadi lebih terorganisir, mencoba memberi tahu diri kita sendiri tentang tata krama di Jepang, budaya dan bahasa, bekerja sama untuk menjaga lingkungan tetap bersih, saling menghormati dan memperhatikan tata krama kita.

    Dengan melakukan itu, saya yakin Anda akan memperoleh pengalaman yang baik saat mengunjungi Jepang dan penduduk setempat juga akan meningkatkan pendapat mereka terhadap wisatawan asing yang datang untuk mengunjungi Jepang dan menyambut kita dengan tangan terbuka.