Ubasute (姥捨て) – Mengapa Lansia Jepang Ditinggalkan Sendirian di Pegunungan? Mitos atau Fakta?

  • SELURUH NEGERI
  • TRADISIONAL
  • Seorang putri menatap ibunya, wanita tua yang telah rapuh, tidak lagi bisa berjalan jauh, dan menghabiskan sebagian besar harinya di dalam rumah bersama keluarga. Rambutnya telah memutih, dan bintik putih di matanya menunjukkan bahwa dia semakin kehilangan penglihatannya. Putrinya benar-benar mencintainya, tetapi tidak tahu bagaimana harus terus menyediakan segala sesuatu untuknya di umurnya yang sudah tua. Anak perempuan itu menyentuh wajah ibunya dengan tangannya, merasakan kulit Ibunya yang setipis kertas. Wanita tua itu sudah menjadi beban. Dia sadar akan hal itu.

    Putrinya kemudian meraih ibunya, dan membawanya keluar. Mereka berjalan bersama dengan langkah lambat untuk menikmati pemandangan indah yang mengelilingi mereka. Pohon-pohon sudah mulai menunjukkan warna musim gugur, dengan angin yang membawa aroma menyegarkan dari Pegunungan Alpen Jepang. Mereka berjalan ke hutan, dan mendaki bukit sebisa mereka. Udara menjadi semakin dingin, pertanda jelas bahwa mereka sudah cukup tinggi diatas bukit. Setelah beberapa saat, mereka akhirnya mencapai tempat yang telah dicari sang putri. Ia memberi ibunya ciuman lembut di pipi, dan mengingatkannya berulang kali bahwa dia mencintainya. Dia kemudian berbalik dan mulai berlari, meninggalkan ibunya sendirian. Wanita lemah itu berdiri di sana dengan air mata mengalir di wajahnya, paham bahwa ia telah ditinggal sendirian, dan akan dibiarkan meninggal disana. Dia duduk, menutup matanya, dan menunggu.

    Praktek ini dikenal dalam masyarakat Jepang dengan Ubasute (姥捨て), dimana lansia ditinggalkan sendirian di pegunungan, ataupun daerah terpencil untuk dibiarkan meninggal. Tindakan menyedihkan ini banyak muncul di berbagai karya seni Jepang seperti sastra dan lukisan, dan dianggap menjadi salah satu folklore Jepang yang relevan dengan kondisi saat ini.

    Kebijakan Jepang terhadap Populasi Orang Tua

    Jepang adalah negara dengan populasi yang semakin menua, dan pemerintah terus berusaha untuk menerapkan kebijakan untuk mencoba mengatasi situasi tersebut. Jepang bukan satu-satunya negara dengan populasi yang menua. Faktanya, banyak negara di Eropa menghadapi situasi yang serupa, dan Amerika Serikat memiliki apa yang dipandang sebagai tenaga kerja yang menua. Akan tetapi, karena Jepang adalah negara pertama yang menangani hal ini, banyak dari negara lain mencontoh kebijakan yang diambil Jepang dan melihat kebijakan mana yang berfungsi dan mana yang tidak.

    Penuaan Jepang yang telah bercampur dengan globalisasi telah mengubah banyak hal di negara ini yang sebelumnya dianggap normal. Di masa lalu, keluarga dulu tinggal bersama, tetapi hari ini semakin banyak lansia yang hidup sendirian, dan kadang-kadang cukup jauh dari anggota keluarga mereka yang lain.

    Dengan tingginya populasi lansia di Jepang dan kesulitan yang terus-menerus dihadapi mereka untuk mencoba menjalani kehidupan yang stabil sambil bekerja berjam-jam, banyak yang mungkin beranggapan bahwa praktik ini mungkin secara sembunyi-sembunyi masih dilakukan beberapa penduduk. Sebenarnya seberapa lazimkah praktik ini di kehidupan modern?

    Baca juga: Hikikomori (引きこもり)- Tentang Kesehatan Mental, Tekanan Masyarakat, dan Hilangnya Anak Muda Jepang

    Seberapa Lazim Praktik Ubasute di Masyarakat?

    Jawaban dari pertanyaan tersebut mungkin cukup mengagetkan bagi banyak orang Jepang yang pernah mendengar tentang topik ini; berdasarkan penelitian, praktik Ubasute hanyalah sebuah mitos belaka.

    Meskipun disebutkan berkali-kali dalam sastra kuno, praktik itu sendiri tampaknya tidak diketahui banyak orang awam dan bukan merupakan tradisi di masyarakat.

    Namun, ada kasus di berita dimana terdapat orang yang benar-benar meninggalkan orang yang dicintai di tempat yang sunyi, beberapa menganggap hal ini menguatkan gagasan bahwa Ubasute dulunya merupakan praktik umum.

    Salah satu kasus terkenal ini terjadi pada tahun 2011, ketika seorang pria bernama Katsuo Kurokawa dituduh telah meninggalkan saudara perempuannya yang cacat di hutan. Kasus lain terjadi baru-baru ini ketika dilaporkan bahwa seorang wanita telah meninggalkan ayahnya, yang menderita Alzheimer, di salah satu perhentian di Chugoku Expressway.

    Terlepas dari keberadaan beberapa berita yang menyebutkan praktik itu, mereka tetap sensasional dan sangat diminati untuk diulas dalam tabloid.

    Sementara Ubasute tampaknya tidak pernah menjadi praktik umum, jelas bahwa Jepang menghadapi beberapa masalah karena populasi yang menua. Tidak jarang orang tua meninggal sendirian. Bahkan ada kalanya tubuh mereka tidak ditemukan selama berhari-hari karena betapa terisolasinya kehidupan mereka. Selain itu, ada laporan baru-baru ini tentang penjahat yang menargetkan orang tua, kadang-kadang dengan kasar menyerang rumah mereka yang dihuni sendiri untuk merampok mereka.

    Kesimpulan

    Sudah jelas bahwa Ubasute, dengan kisah sedih dan emosional yang menyertainya, telah memikat orang selama berabad-abad. Praktek ini telah menjadi legenda, bahkan sangat banyak mempengaruhi karya seni dan sastra yang hebat. Namun, Ubasute sepertinya tidak pernah menjadi hal yang benar-benar dilakukan oleh masyarakat Jepang. Belakangan, setiap kali sebuah peristiwa yang menyerupai praktik ini menjadi berita utama, Ubasute segera dikaitkan, meskipun terdapat sedikit sekali atau hampir tidak ada bukti yang mendukung prevalensi praktik ini dengan peristiwa yang terjadi di masyarakat sekarang ini.

    Namun demikian, Jepang memang memiliki populasi yang menua, dan efeknya sudah dapat dilihat hari ini. Para lansia sangat terpengaruh karena mereka cenderung tinggal jauh dari putra dan putri mereka. Dengan dikeluarkannya kebijakan baru mengenai visa baru-baru ini, pemerintah Jepang mengharapkan untuk membawa lebih banyak perawat dari Asia Tenggara yang dapat membantu sejumlah besar warga yang masuk dalam kategori lansia.