Antara Jengah dan Kasihan, Fenomena Begpackers di Destinasi Wisata Internasional | Apakah Anda Pernah Melihat Begpackers di Jalan-jalan?

  • SELURUH NEGERI
  • SOSIAL
  • Jepang dengan industri turismenya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, terutama dalam kurun waktu belakangan. Seiring dengan kian meningkatnya industri ini, banyak tren-tren yang telah ditemukan di belahan dunia lainnya kini mulai bermunculan di Negeri Matahari Terbit ini–salah satunya adalah tren yang membuat banyak masyarakat lokal di pusat-pusat wisata di negara lain geram, yang dikenal dengan ‘begpackers’.

    Apa Itu ‘Begpackers’?

    Begpackers telah memperoleh banyak cibiran pedas dari banyak negara di seluruh dunia, dimana kemunculan dan kelakar mereka telah menyebabkan kegusaran bagi masyarakat lokal yang bertempat di mana begpacker tersebut muncul. Mungkin terdapat beberapa hal yang mereka pertanyakan seperti mengapa mereka tetap nekad untuk mengunjungi negara lain jika mereka sadar tidak dapat membiayai perjalanan mereka sendiri.

    Empati, atau muak terhadap begpackers?

    Mungkin ada beberapa pendapat yang bertentangan terhadap fenomena begpackers ini. Di satu sisi, banyak orang masih merasakan empati yang tinggi kepada para begpackers, dikarenakan spekulasi alasan-alasan yang mendorong mereka untuk meminta-minta di negara lain. Ketika saya menanyakan ke beberapa teman saya orang Indonesia, mereka berpendapat mungkin ada alasan kuat bagi para begpackers yang mendasari mereka melakukan hal itu. Salah satunya adalah force majeur yang terjadi saat sedang berpergian ke luar negeri, seperti contohnya hilangnya atau kecopetan dompet, hilangnya paspor, atau barang-barang lainnya. Sehingga tidak ada jalan lain bagi mereka untuk tetap bertahan hidup di negara orang. Pun begpackers seringkali tidak meminta-minta secara cuma-cuma, namun mereka berusaha untuk menawarkan sesuatu (seperti berjualan sesuatu, atau menampilkan sesuatu) untuk memperoleh bayaran. Jika para begpackers melakukan ini, bahkan banyak orang cenderung sangat mengapresiasi usaha mereka dalam melakukannya, dan memaklumi fenomena begpackers.

    Akan tetapi, pada dasarnya hal yang membuat banyak masyarakat lokal muak adalah cara mereka meminta-minta. Terkadang, mereka seakan sangat memaksa masyarakat lokal untuk memberi mereka uang, atau bahkan meminta secara paksa. Hal ini akan dibahas dalam bagian selanjutnya.

    Apa yang telah dilakukan negara lain?

    Tren begpackers cukup awam di Asia Tenggara. Belakangan ini, pemerintah di negara-negara Asia Tenggara mulai menindak para pelancong yang meminta-minta di jalan raya. Salah satu kasus yang cukup terkenal adalah Thailand, dimana negara ini menjadi salah satu negara target dari para begpackers. Pihak berwenang Thailand memutuskan untuk menindak jenis turis yang cukup membuat resah ini, mengharuskan semua orang yang memasuki negara itu untuk menunjukkan bukti bahwa mereka memiliki cukup uang untuk menyelesaikan perjalanan mereka.

    Ini bukan konsep baru karena negara-negara di belahan dunia lainnya memiliki kebijakan serupa. Sebagai contoh, Seychelles mengharuskan semua pengunjung asing untuk memiliki tiket pulang, memesan akomodasi untuk keseluruhan perjalanan mereka, dan minimum 150 dolar sehari untuk jadwal perjalanan mereka. Seychelles membingkainya dengan sangat jelas bahwa jika Anda seorang turis, Anda tidak berhak memperpanjang waktu liburan dengan tidak semestinya dan memohon orang lain untuk mendanai liburan Anda.

    Beberapa tahun yang lalu, muncul reaksi yang cukup menghebohkan di Hongkong, yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah begpackers di pusat-pusat keramaian Hong Kong, dimana di area tersebut juga tinggal penduduk-penduduk paling miskin di negara ini. Masyarakat lokal tentunya cukup mengamuk, bukan hanya karena jumlah ‘pengemis’ yang meningkat, namun juga pelancong-pelancong asing tersebut yang melakukannya di area dimana ketimpangan ekonomi sangat jelas terlihat. Di beberapa bulan belakangan, jumlah begpackers dan juga pengamen di Hong Kong turun drastis setelah mencapai puncaknya di tahun 2016, yang dikaitkan dengan reaksi publik yang terang-terangan menolak begpackers, dan hukuman berat yang dapat menimpa pengemis di negara ini.

    Bagaimana dengan Jepang?

    Di banyak post yang beredar di media sosial, banyak bukti yang menunjukkan bahwa begpacker telah banyak muncul di jalan-jalan Jepang. Taktik di Jepang terbilang cukup berbeda dibanding negara lainnya. Dalam kasus di Jepang, para begpackers cenderung ditemukan memberikan bendera-bendara kecil kepada masyarakat lokal untuk meminta uang. Dalam beberapa kasus, bahkan para begpackers juga memberikan kartu nama yang memberi informasi bahwa mereka tuli, dan dengan memberi merek 500 yen, sang pendonor akan membantu mereka untuk kembali ke negara asal. Banyak yang menyangsikan kebenaran dari informasi tersebut, karena seringkali isi dari kartunya pun seakan template.

    バーガーキングで食事してたら「私たちは聴覚障害者です」というカードを外人に見せられしょぼい旗を500円で買わされた。ほんとに聴覚障害者かわからんかったし断わりゃよかった。店員に言ったらそんな行為も許可してないらしいし食事もせず出ていったし常識外の人だわ… pic.twitter.com/xVT3sHChmY

    Pertentangan dengan budaya Jepang

    Seperti yang sudah disangka-sangka, fenomena begpackers di Jepang belakangan memperoleh reaksi yang kurang menyenangkan dari masyarakat lokal Jepang. Terutama karena cara begpackers tersebut melakukan ‘transaksi’. Dengan menyerahkan bendera dan kemudian meminta uang, para begpackers sebenarnya menipu orang dan memaksa mereka untuk membeli bendera.

    Masalah yang lebih besar adalah, pada dasarnya orang Jepang bukanlah tipe orang yang blak-blakan. Seperti kita tahu, mereka cenderung menghindari konflik sebisa mungkin dengan orang lain. Sehingga pada kasus kebanyakan, sulit bagi mereka untuk menolak permintaan orang lain, terutama dari warga asing seperti maraknya fenomena begpackers. 

    Dampaknya di masa depan

    Ini mungkin hanya sekadar hipotesis, tetapi jika pengemis mulai datang ke Jepang sebelum atau setelah Olimpiade, kita mungkin akan melihat pembatasan masuk yang lebih ketat ke Jepang. Di kebijakan sekarang ini, Anda mungkin akan ditolak masuk jika petugas imigrasi Jepang menganggap bahwa seseorang tidak memiliki dana untuk mendukung diri sendiri. Ini mungkin dapat menjadi lebih strict ke depannya bagi para pelancong yang akan berencana ke Jepang.

    Selain itu, kemunculan tren begpackers ini di Jepang dapat membawa sesuatu yang akan mempengaruhi kebanyakan orang asing lainnya yang tinggal di Jepang: kesan buruk pada pengunjung asing, ataupun xenophobia.

    Kesimpulan

    Sangat menyedihkan melihat bahwa terdapat backpacker yang terang-terangan meminta uang sehingga mereka dapat membiayai perjalanan mereka. Sampai sekarang, tampaknya belum terlihat banyak kasus di negara ini, yang mungkin disebabkan oleh sikap Jepang secara secara umum dalam mengemis. Namun, jika jumlah pengemis meningkat, sikap terhadap wisatawan asing secara bertahap dapat memburuk, mempengaruhi pelancong dan penduduk asing lainnya di masa mendatang.