Tentang Hanko, Perdagangan Gading di Jepang, dan Perburuan Gajah secara Ilegal di Seluruh Dunia

  • LAIN LAIN
  • MACAM-MACAM AREA
  • SOSIAL
  • Turis-turis mancanegara senang sekali berkumpul di satu destinasi favorit mereka di Jepang, utamanya di tempat-tempat yang sudah terlampau mainstream di Instagram. Salah satu dari tempat-tempat paling mainstream ini adalah Asakusa, dimana beribu-ribu orang berkerumun di ratusan toko souvenir di jalan-jalan menuju Senso-ji: kuil Buddha yang menjadi magnet wisatawan di daerah ini. Hal-hal yang banyak orang tidak ketahui adalah, di tengah keramaian toko-toko souvenir tersebut, masih terdapat beberapa toko yang menjual barang yang seharusnya menjadi ilegal untuk diperjualbelikan di belahan dunia lain: gading gajah.

    Kenyataan yang Memilukan

    Kenyataan yang sangat mengecewakan dan membuat pilu adalah, Jepang sebagai salah satu negara maju ternyata juga merupakan salah satu pasar terbesar dari komoditas gading gajah di seluruh dunia, terutama setelah Cina baru saja menerbitkan larangan penjualan gading gajah secara total di seluruh daratan Cina. Sayangnya, pemerintah Jepang seakan tidak perduli dengan isu ini, ditunjukkan dengan tidak terdapatnya perubahan terhadap peraturan yang ada tentang komoditas-komoditas tersebut, setidaknya sampak akhir tahun lalu. Terdapat banyak celah dalam hukum Jepang yang memungkinkan penjahat dan pedagang gading secara curang melakukan perdagangan gading, mencoba menjual gading kepada orang-orang yang mereka anggap akan mengangkutnya secara ilegal, atau mengirimnya ke luar negeri secara bebas.

    Belakangan ini, salah satu konvensi internasional yang mengurus tentang permasalahan ini, Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), telah mendorong semua negara yang memiliki pasar komoditas gading di negara mereka untuk melakukan pelarangan perdagangan ilegal dan juga perburuan dari fauna dan flora langka. Namun demikian, pihak dari Menteri Lingkungan Hidup Jepang seakan tidak menggubris rekomendasi dari CITES, meskipun TRAFFIC, sebuah organisasi yang memantau perburuan satwa liar, menemukan bahwa setidaknya terdapat 2,4 ton gading telah berhasil masuk ke dan keluar dari Jepang antara tahun 2011 dan 2016. Keiko Wakao, kepala TRAFFIC cabang Jepang menyatakan bahwa peran pemerintah dalam lolosnya gading-gading ini tidak boleh diabaikan lagi. Sebagai tambahan, organisasi ini juga mengkritik lemahnya kontrol perdangan gading dalam pasar domestik Jepang ini sendiri yang melenggangkan para penyelundup gading ilegal untuk melakukan bisnis mereka–menjadikan Jepang surga bagi perdagangan gading ilegal.

    Mengapa Jepang bertanggung jawab dalam hal ini

    Faktanya adalah, meskipun banyak klaim yang menyatakan bahwa penggunaan gading gajah dalam beberapa kasus merupakan bagian dari kebudayaan, gading (dan gajah) itu sendiri bahkan baru masuk Jepang di penghujung tahun 1500! Jepang tidak memiliki spesies gajah endemik, lalu bagaimana mungkin gading ini merupakan bagian dari ‘kebudayaan’ Jepang?

    Pembelian gading dan penggunaan gading gajah baru mulai populer di awal tahun 1600, pada jaman Edo. Pada masa ini, gading digunakan sebagai aksesoris kalangan ningrat Jepang, terutama sebagai sebuah netsuke. Karena kimono yang dikenakan oleh orang-orang kaya ini tidak memiliki kantung khusus, maka netsuke digunakan untuk mengencangkan tas kecil ke sabuk obi orang-orang.

    Populeritas penjualan gading gajah di Jepang semakin menanjak, terutama di tahun 1800an dimana Jepang memulai membuka pelabuhan untuk memudahkan perdagangan internasional. Penjualan gading gajah ini semakin meningkat, terutama setelah perang dunia kedua, dimana gading-gading tersebut digunakan untuk membuat pipa. Di tahun 1967, penggunaan gading-gading ini semakin bervariasi, terutama ketika Hikaru Sakamoto mulai menggunakan gading-gading sebagai hanko. Hanko itu sendiri merupakan cap khas Jepang yang digunakan sebagai pengganti tanda tangan bagi orang Jepang, dan dimiliki hampir semua keluarga di Jepang untuk segala bentuk transaksi sehari-hari.

    Sakamoto yang mengenalkan gading untuk hanko ini memasarkannya dengan cukup cerdik–dia menjualnya dengan menyatakan bahwa gading yang berasal dari gajah yang telah hidup bertahun-tahun dapat memberikan peruntungan yang besar bagi keluarga yang memilikinya. Strategi tersebut berhasil, dan pasar penjualan gading di Jepang kian melesat. Di tahun 1982, Jepang telah mengalahkan Hong Kong sebagai pasar terbesar untuk penjualan dan pembelian gading di seluruh dunia. Isao Sakaguchi, dari Universitas Tokyo menyatakan bahwa Jepang bertanggung jawab terhadap hampir punahnya gajah-gajah Afrika di tahun 80an, dikarenakan permintaan yang sangat tinggi akan gading gajah di masyarakat Jepang. Pembunuhan masal gajah untuk mengambil gadingnya berhasil mencapai puncaknya pada tahun 1989, dimana krisis tersebut memaksa negara-negara untuk secara serius menangani isu ini. Hal ini kemudian diimplementasikan dalam larangan pembelian dan penjualan gading yang diadopsi secara internasional.

    Akan tetapi, di tahun 1997, permohonan penjualan gading gajah antara Zimbabwe dan Jepang ternyata masih dilakukan oleh pemerintah Jepang. Semenjak itu, Jepang terus menjadi salah satu pasar utama untuk penjualan gading secara internasional. Berdasarkan hukum di Jepang, penjualan gading di Jepang diperbolehkan bagi gading-gading yang berasal dari gajah yang sudah mati sebelum larangan penjualan gading itu diberlakukan. Namun demikian, fakta di lapangan menunjukkan bahwa jumlah gading di Jepang terus meningkat, menunjukkan bahwa gading ilegal terus dipasok ke negara ini. Japan Elephant Tiger Fund (JETF) dan Environmental Investigation Agency (EIA) menemukan bahwa 30 dari 37 dealer yang mereka selidiki ternyata masih memasok gading-gading ilegal, yang mengindikasikan bahwa bisnis-bisnis yang sudah beredar secara terang-terangan telah melanggar hukum.

    Perjuangan menekan perdagangan gading secara ilegal

    Mungkin sudah terdapat banyak hal yang berubah terkait dengan penggunaan gading untuk netsuke. Koleksi-koleksi dari artefak kuno netsuke dapat ditemukan di Kyoto Seishu Netsuke Art Museum. Pengrajin netsuke modern kini juga secara gamblang menyatakan kepada National Geographic bahwa mereka adalah pengrajin netsuke, bukan pengrajin gading. Hal ini jelas menjadi posisi mereka dalam pelarangan perdagangan gading. Sebagai gantinya, banyak dari pengrajin ini akhirnya menggunakan elforyn, jenis plastik yang memiliki tekstur layaknya gading.

    Tantangan terbesar dari perjuangan menekan permintaan gading di Jepang malah bersumber lebih banyak dari hanko. Taktik Hikaru Sakamoto yang memasarkan gading sebagai barang mewah yang membawa keberuntungan masih terus dipercaya banyak orang. Dan hingga kin banyak orang lanjut membeli hanko yang dibuat dari gading. Fabrikan dari hanko ini membabi buta masih meyakini bahwa gading yang mereka gunakan berasal dari gajah yang telah mati secara alami. Karena demikian, mereka menganggap bahwa bisnis mereka tidak berkontribusi sama sekali terhadap perburuan gajah-gajah secara ilegal untuk mengambil gading mereka.

    Di tahun 2019 ini, kabar baik mulai terlihat dari Jepang. Pemerintah mulai mengetatkan peraturan-peraturan tentang peradagangan gading di dalam negeri. Salah satunya adalah untuk meregistrasikan gading-gading yang berada di Jepang, dimulai pada bulan Juli 2019 (mengabaikan 170 ton gading yang sudah menumpuk di Jepang sebelumnya). Organisasi-organisasi penggiat lingkungan hidup menganggap tindakan ini masih belum efektif memangkas permintaan gading dari Jepang. Masayuki Sakamoto, Direktur Eksekutif JETF berpendapat bahwa para dealer gading-gading ini di Jepang sudah terlampau lihat mengakali peraturan-peraturan yang ada, bahkan jika pemerintah mulai berniat melakukan perubahan. Salah satu jalan keluar yang tersisa mungkin adalah secara terang-terangan menghapus semua bentuk perdagangan gading seperti yang dilakukan Cina, yang akan memutuskan rantai permintaan dari produk gading di Jepang.

    Reaksi penyedia lapak dan pengecer

    Beberapa pengecer, dan juga penyedia sarana perdagangan gading telah mengambil tindakan. Rakuten, Ito-Yokado, dan Aeon melarang semua penjualan produk gading (terutama hanko) di lapak mereka. Aeon bahkan mendorong tenant untuk menghapus produk tersebut pada tahun 2020 nanti. Sayangnya, Yahoo! Jepang yang menjadi platform terbesar untuk penjualan gading di seluruh dunia, yang menyatakan bahwa mereka masih ingin menghormati ‘budaya’ Jepang–dalam artian, masih melegalkan perdagangan gading. Meskipun menghadapi banyak tekanan, Yahoo! Jepang sepertinya tidak menunjukkan minat untuk mengubah kebijakannya.

    Tekanan untuk membuat pengecer berhenti menjual gading untuk hanko terus meningkat, terutama karena Olimpiade Tokyo akan dilangsungkan tahun depan. Jika Jepang tidak mengambil tindakan secara cepat dalam melarang penjualan produk gading, wisatawan mancanegara yan sama sekali awam terhadap krisis penjualan gading ini, tanpa pikir panjang mungkin akan membeli hanko dari gading dan produk lainnya dan kemudian membawanya secara ilegal ke negara masing-masing–tanpa mereka sadari, mereka (dan mungkin kita sendiri) tidak sadar telah berkontribusi terhadap tindakan perburuan gajah secara ilegal!

    Waktunya tinggal sedikit!

    Dengan tingginya permintaan gading di seluruh dunia, dan di Jepang secara khusus, rata-rata, sebanyak 55 gajah diburu setiap harinya untuk diambil gadingnya. Dengan melenggangkan perdagangan gading secara legal di dalam negeri, Jepang telah menjadi pasar penjualan gading terbesar di dunia. Sungguh kenyataan yang memalukan mengingat Jepang merupakan salah satu negara paling berkembang di dunia. Waktu kini tinggal sedikit,  sebelum Olimpiade 2020 dimulai, Jepang harus segera mencari cara untuk menangani krisis ini.

    Organisasi-organisasi Penggiat Isu Pelarangan Penjualan Gading

    Untuk berita-berita terbaru mengenai isu perdagangan gading di Jepang, harap untuk mengecek juga situs-situs berikut ini:

    Japan Elephant Tiger Fund (JETF)
    Great Elephant Census
    Tears of the African Elephant
    Wild Aid
    Humane Society International
    TRAFFIC

    Hanko merupakan salah satu barang esensial bagi Anda yang akan tinggal di Jepang. Hanko digunakan dalam hampir setiap transaksi yang membutuhkan tanda tangan Anda. Setelah Anda mengetahui hal ini, harap berhati-hati dalam membeli hanko untuk kebutuhan Anda di masa mendatang. Pastikan terlebih dahulu apakah hanko yang akan Anda beli terbuat dari gading atau bukan. Jangan sampai, secara tidak sadar Anda juga berkontribusi dari perburuan satwa liar secara ilegal.