Teori Horor Film Animasi Totoro Ini Cukup Membuat Merinding Lho!

  • BUDAYA
  • Animasi Studio Ghibli menjadi sangat terkenal baik di dalam maupun luar Jepang. Meskipun ditampilkan dalam format animasi, film seperti Howl’s Moving Castle, Spirited Away dan Princess Mononoke mungkin dianggap lebih cocok untuk orang dewasa, sedangkan Ponyo dan Totoro tampaknya masih cocok untuk penonton yang lebih muda. Namun, bukan berarti orang dewasa juga tidak bisa menikmatinya!

    Apakah Anda tahu, terdapat beberapa teori-teori terkait film Ghibli yang telah lama dikenal di Jepang? Beberapa teori yang menyertai film ini cukup membuat bergidik para penggemar film Ghibli. Berikut di antaranya!

    Dewa Kematian

    Karena kebanyakan penggemar sangat akrab dengan karya paling terkenal dari Studio Ghibli, yaitu ‘My neighbour Totoro’ (となりのトトロ), bermacam-macam teori telah ditemukan oleh penonton. Entah teori-teori ini benar atau tidak, namun teori tersebut tetap akan membuat bulu kuduk Anda berdiri.

    Teori berikut ini benar-benar yang paling mengejutkan: beberapa orang percaya, bahwa Totoro bukanlah hantu hutan yang bersahabat seperti diceritakan dalam film, melainkan dewa kematian!

    Pendukung dari teori ini menyatakan bahwa Totoro, sang dewa kematian, hanya bisa dilihat oleh orang yang sudah mati. Jadi ketika Mei, si adik perempuan dan salah satu karakter utamanya menghilang, sebenarnya dia telah tenggelam di kolam terdekat. Sebuah sendal, yang ditemukan dalam film ini sesungguhnya adalah miliknya, walaupun Satsuki, si kakak perempuan, membantahnya.

    Satsuki tidak mampu menerima kenyataan, dan ketika ia mencari Totoro, dia pergi ke dunia kematian dan menemukan adiknya. Pada akhirnya, ketika kedua bersaudara itu mengunjungi ibunya di rumah sakit, ibunyalah satu-satunya orang yang mendapat firasat bahwa anak-anaknya berada di dekatnya. Hal itu dikarenakan, pada saat itu ibunya juga sangat dekat dengan kematian.

    Banyak orang yang menerima teori ini dikarenakan sifat dari film-film Ghibli yang memang pada dasarnya cenderung ‘gelap’. Namun, banyak juga pihak yang menyangkal teori ini.

    Kasus Sayama

    Kasus Sayama adalah kasus pembunuhan yang diberi nama sesuai dengan kota Jepang Sayama di Prefektur Saitama. Seorang pria dijerat hukuman selama 31 tahun setelah dinyatakan sebagai pelaku pembunuhan.

    Peristiwa bermula pada tanggal 1 Mei 1963, dimana Yoshie Nakata yang berusia 16 tahun hilang dan sebuah surat yang memohon uang tebusan dikirim ke rumahnya. Kakaknya kemudian diperintahkan untuk membawa uang palsu ke tempat yang telah ditentukan pelaku, dengan banyak polisi di sekitar lokasi pertemuan. Sebelum Yoshie dikembalikan ke keluarga, pelaku tersebut terlanjur curiga kepada si kakak dan kemudian kabur sebelum polisi berhasil menangkapnya.

    Di pagi hari tanggal 4 Mei, mayat Yoshie ditemukan terkubur. Pemeriksaan forensik menunjukkan bahwa pelaku memperkosa sebelum akhirnya membunuhnya. Merasa bersalah atas kematian adik perempuannya, kakak perempuannya kemudian bunuh diri. Media mengkritik polisi karena gagal menangkap tersangka saat dia bertemu dengan kakaknya untuk pemberian uang tebusan.

    Tidak lama setelah itu, polisi menyelidiki karyawan Ishida Pig Farm dan menangkap Kazuo Ishikawa, 24 tahun, yang memiliki golongan darah yang sama dengan tersangka. Dia mengaku tidak bersalah pada awalnya, tetapi mengakui penculikan dan pembunuhan dalam kasus tersebut pada 20 Juni. Pendukung Ishikawa mengatakan bahwa setelah 1,5 bulan penyiksaan di penjara, ia dipaksa untuk mengakui kejahatan yang tidak dilakukannya.

    Walaupun Studio Ghibli sangat membantah dugaan tersebut, hal ini sangat menarik bahwa banyak terdapat teori yang dibuat para penggemar tentang peristiwa Sayama (狭山事件 Sayama Jiken). Hubungannya dengan Totoro adalah dengan situasi pada kasus ini, ‘seorang anak sekolahan menghilang dalam perjalanan pulang ke rumahnya’ dan ketika mengamati karakter utama pada Totoro: kedua anak tersebut diberi nama berdasarkan nama bulan “Mei”, yang mana anak tertua diberi nama ‘Satsuki’, yang dalam bahasa Jepang kuno adalah nama untuk bulan Mei, dan adik perempuannya ‘Mei’, yang pengucapannya sama dengan kata dalam bahasa Indonesia adalah ‘Mei’.

    Keterkaitan lainnya adalah bahwa banyak lokasi di film Totoro, seakan diadaptasi dari kota Sayama di kasus pembunuhan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari rumah yang berada di Sayama Kyuryo, yang berarti Bukit Sayama. Selain itu, lokasi film juga bertempat di Kota Tokorozawa, kota yang berada tepat di samping Kota Sayama, tempat kasus penculikan tersebut terjadi.

    Mungkin alasan-alasan keterkaitan antara Totoro sebagai dewa kematian cenderung terlihat dibuat-buat, atau dikait-kaitkan, namun bagaimanapun juga, hubungannya dengan teori yang beredar cukup seram! Bagaimana menurut Anda tentang teori-teori di atas?

    *Featured Image: jp.fotolia.com/