‘Aku Akan Membunuhmu’: Tentang Kriminalitas di Tokyo, dan Predikat Kota Teraman di Dunia

  • BERITA
  • SOSIAL
  • TOKYO
  • Wajar apabila Anda merasa cukup beruntung jika Anda tinggal di Tokyo. Tak hanya memiliki indeks kualitas hidup dari UN Habitat yang menakjubkan dengan skor nyaris sempurna, kota ini juga memperoleh predikat kota teraman di dunia berdasarkan tinjauan The Economist pada tahun 2017. Indeks ini melihat berbagai indikator termasuk keselamatan pribadi, keselamatan infrastruktur, keamanan kesehatan, dan keamanan digital. Di Tokyo sendiri, indikator yang mungkin paling terasa adalah keselamatan pribadi, khususnya terkait dengan kepemilikan barang pribadi. .Jika tanpa sengaja Anda meninggalkan barang berharga di tempat umum, sudah menjadi hal lumrah bahwa kemungkinan besar Anda akan tetap memperolehnya kembali di keesokan harinya–entah di tempat yang sama di mana barang tersebut tertinggal, ataupun mengambilnya di kantor polisi setempat.

    Semuanya terasa begitu teratur dan terjamin di Tokyo. Akan tetapi, melihat kembali kejadian-kejadian pada beberapa waktu ke belakang, publik cukup dikagetkan dengan serentet kasus penikaman dengan target acak. Meskipun memiliki tingkat pembunuhan yang rendah dibanding banyak kota metropolitan dunia lainnya, ketakutan masyarakat Tokyo terhadap kasus kriminal seperti penikaman di tempat umum kian meningkat. Mengapa hal ini sangat menimbulkan keresahan di masyarakat Tokyo?

    Kasus Penikaman dalam Beberapa Tahun Terakhir

    Pada bulan Mei 2019 lalu, publik dikagetkan dengan penikaman dan pembunuhan yang terjadi di Kawasaki, daerah di selatan pusat Tokyo yang juga merupakan bagian dari kawasan metropolitan Tokyo. Penikaman dan pembunuhan ini dilakukan oleh seorang lansia berumur 51 tahun. Dengan pisau di masing-masing tangannya, dia membunuh seorang pria berusia 39 tahun dan seorang siswi berusia 12 tahun. Tak hanya itu, pelaku juga melukai 15 anak sekolah yang berusia antara enam dan dua belas ketika mereka menunggu bus sekolah.

    Saksi mata menyatakan bahwa saat penikaman dilakukan, pelaku terlihat meneriakkan kalimat berikut berkali-kali:

    Aku akan membunuhmu

    seraya mengayunkan pisaunya ke orang-orang di sekitar tanpa pandang bulu. Setelah dilakukan penyelidikan, pelaku yang akhirnya bunuh diri dengan menikam dirinya sendiri ternyata memiliki reputasi yang cukup buruk di kalangan masyarakat. Beberapa kerabat pelaku menggambarkan si pelaku sebagai anak yang bermasalah ketika berada di bangku sekolah, sedangkan tetangga pelaku menyatakan sering memperoleh tindakan kurang menyenangkan selama tinggal bersebelahan dengan pelaku.


    Insiden serupa juga terjadi di tahun 2016, di mana terdapat pembunuhan terhadap 19 penghuni panti tuna grahita yang dilakukan oleh mantan petugas di panti tersebut. Insiden tersebut menjadi pembunuhan massal paling mengerikan di Jepang semenjak Perang Dunia Ke-2. Saat pelaku ditangkap, dirinya dengan bangga mengakui tindakan kejinya, dengan menyatakan:

    Sudah sepantasnya orang-orang cacat itu hilang dari muka bumi.

    Pada tahun 2008, seorang pria tanggung berusia 25 tahun membunuh tujuh orang, dan menikam 10 orang lainnya di Akihabara, salah satu destinasi paling populer di Tokyo. Sebelum insiden itu berlangsung, pelaku menuliskan kalimat berikut di sosial medianya:

    Aku tidak mempunyai teman, dan juga tidak akan mendapatkan teman di masa mendatang. Aku akan diabaikan oleh orang-orang karena aku jelek.

    Di tahun yang sama, meskipun terjadi di Ibaraki, seorang pria dengan usia serupa melakukan penikaman acak di kota tersebut, membunuh dua orang dan juga melukai tujuh orang lainnya. Pelaku menyatakan akan mengakhiri hidupnya yang membosankan dengan membunuh orang.

    Yang cukup menarik dari sebagian besar insiden di atas adalah asosiasi antara penyakit mental Hikikomori di Jepang dengan motif penikaman yang dilakukan pelaku. Sebagian besar pelaku cenderung memiliki tren serupa untuk mengucilkan diri, dan mengisolasi dirinya sendiri akibat tekanan dari masyarakat. Insiden penikaman dan pembunuhan kemudian menjadi sarana ‘pelampiasan’ pelaku yang menyalahkan keadaannya sendiri terhadap lingkungan sekitarnya.

    Baca juga: Hikikomori (引きこもり)- Tentang Kesehatan Mental, Tekanan Masyarakat, dan Hilangnya Anak Muda Jepang

    Keresahan yang Berbeda di Jepang

    Tidak seperti sejumlah insiden serupa, yang melibatkan pelaku tunggal dan target acak dalam beberapa tahun terakhir, kasus di Jepang terlihat sedikit berbeda. Jika dibandingkan sengan serangan masjid di Christchurch dan serangan sinagog Pittsburgh misalnya, kasus yang terjadi di Tokyo seperti dijelaskan pada bagian sebelumnya tidak memiliki keterkaitan langsung dengan sebuah ideologi.

    Motif pelaku disebabkan sebagian besar oleh pengucilan sosial yang terjadi di masyarakat, ataupun modal sosial yang rendah dari si pelaku tersebut. Hal ini juga terkait dengan budaya represif terhadap penyakit atau kesehatan mental, yang menjadi hal yang cukup tabu untuk dibicarakan oleh masyarakat Jepang. Kombinasi antara keduanya menjadi motif dari serangan-serangan penikaman, sebagai bentuk pelampiasan terhadap keadaan yang mungkin secara khusus lebih banyak ditemukan di Jepang dibanding negara-negara lainnya.

    Dengan predikatnya sebagai kota teraman di dunia, apakah Tokyo harus mulai berbenah diri untuk tetap mempertahankan statusnya tersebut? Menurut pendapat pribadi kami, salah satu hal utama yang harus segera diselesaikan mungkin adalah isu mengenai kesehatan mental yang terjadi di masyarakat.