Pemerintah Jepang Setujui Eksperimen Hibrida Embrio Manusia – Hewan

  • BERITA
  • INOVASI
  • Eksperimen mengenai persilangan embrio manusia dan hewan merupakan salah satu penelitian paling kontroversial di abad ini. Penelitian ini telah banyak dikembangkan di negara lain dalam beberapa tahun terakhir, dari sel embrio hibrida babi dan manusia di tahun 2017, dan domba dan manusia di tahun 2018–semuanya tanpa dukungan penuh dari pemerintah mempertimbangkan aspek etis dari penelitian ini. Di akhir Juli lalu, pemerintah Jepang memberikan izin pengembangan penelitian embrio hibrida manusia dan tikus untuk pembuatan organ manusia.

    Dilansir dari The Asahi Shimbun, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada 24 Juli lalu telah menandatangani permintaan dari tim peneliti Universitas Tokyo untuk mengembangkan penelitian tersebut.  Penelitian tersebut bertujuan untuk menciptakan pankreas manusia pada tikus dengan menggunakan sel punca ber-pluripotensiatau sel induced pluripotent stem (iPS) dari manusia.

    Embrio Hewan dengan Organ Manusia

    Penelitian ini akan diketuai oleh Hiromitsu Nakauchi. Beliau merupakan peneliti utama sel punca dari Universitas Tokyo, dan telah menyelenggarakan kerjasama dengan Universitas Stanford di Amerika Serikat selama bertahun-tahun untuk mengembangkan hibrida embrio pertama manusia. Merujuk kepada Nature, Nakauchi berharap dengan penelitiannya ini, ia dan tim bisa menciptakan hewan dengan organ manusia lengkap yang nantinya bisa ditransfer ke tubuh manusia.
    PhotoAC.com/
    Di kesempatan lain, seperti dilansir dari The Asahi Shimbun,  Nakauchi menyatakan bahwa proses penciptaan organ merupakan tujuan akhir–dan ini adalah proses yang sangat panjang.
    “Kami tidak berharap untuk membuat organ manusia dengan segera, tetapi (persetujuan) ini memungkinkan untuk mengembangkan penelitian kami berdasarkan apa yang telah kita peroleh saat ini.”

    Percobaan akan dilakukan dengan menyuntikkan sel iPS ke dalam embrio tikus yang telah dimanipulasi secara genetik sehingga pankreas nya tidak dapat tumbuh secara genetis.

    PhotoAC.com/

    Dengan disuntikannya sel punca kepada embrio tikus, diharapkan tikus tersebut dapat menggunakan sel punca manusia untuk membentuk pankreasnya sendiri–yang tentunya diharapkan memiliki sifat-sifat serupa yang dimiliki oleh pankreas manusia. Selama dua tahun penelitian, tim dari Universitas Tokyo dan Universitas Stanford akan mengamati perkembangan dan pertumbuhan dari tikus-tikus percobaan ini secara sangat hati-hati. Sebelumnya, penelitian serupa telah dilakukan dengan embrio babi dan domba, namun tidak sampai pada tahap pengembangan embrio secara matang.

    Kontroversi

    Sejauh ini, Nakauchi dan tim menargetkan pengembangan sel embrio hanya pada pankreas. Ke depannya, jika mereka mendeteksi lebih dari 30% otak tikus adalah manusia, penelitian akan dihentikan untuk menghindari terbentuknya ‘chimera’, atau hibrida manusia dan binatang. Kondisi ini juga merupakan persyaratan yang diajukan oleh pemerintah untuk mencegah binatang yang ‘dimanusiakan’–sebuah isu yang paling kontroversial dari penelitian ini.

    PhotoAC.com/

    Bagaimana menurut Anda terhadap keputusan Pemerintah Jepang tersebut? Apa yang dapat terjadi jika ke depannya, sel manusia berkembang terlalu jauh di embrio hewan?