Dari Mengukir Nama di Bambu Arashiyama sampai Mencolek Geisha: Perilaku Tidak Terpuji Turis Asing di Jepang

  • BUDAYA
  • MACAM-MACAM AREA
  • SELURUH NEGERI
  • SOSIAL
  • TOKYO
  • TRADISIONAL
  •  

    この投稿をInstagramで見る

     

    Visit Japan UK(@visitjapan_uk)がシェアした投稿

     

    Pariwisata secara umum bukanlah hal yang buruk. Ketika turis asing mengunjungi suatu negara, mereka mencurahkan miliaran dolar ke dalam perekonomian, itulah sebabnya Jepang telah menetapkan tujuan baru ketika berusaha meningkatkan jumlah pengunjung asingnya. Masalahnya adalah bahwa jumlah wisatawan yang datang ke Jepang kian meroket begitu cepat, namun infrastruktur dan penduduk tidak sepenuhnya siap untuk itu. Pada tahun 2011, jumlah wisatawan asing di Jepang hanya berjumlah 6,2 juta wisatawan. Jumlah tersebut meroket di tahun 2018, dan meningkat menjadi 31,2 juta wisatawan. Masuknya pengunjung ini sangat bagus untuk industri perhotelan dan akomodasi, dengan nama-nama terkenal seperti Four Seasons dan Bvlgari yang membuka hotel di gedung pencakar langit yang baru dibangun di sekitar Stasiun Tokyo. Namun, banyak turis ‘gagal’ mengikuti norma sehari-hari yang diharapkan di Jepang, yang telah menyebabkan banyak masalah saat ini.

     

    この投稿をInstagramで見る

     

    𝐘 ❤︎ 𝐀(@y___a___17)がシェアした投稿

    Sebagai contoh, pada tahun 2015, Anda dapat berjalan-jalan di jalanan Omotesando dan Harajuku sambil mengagumi banyak butik dan kafe sambil memperhatikan betapa bersih jalanan-jalanannya. Sementara di awal tahun 2019, Anda mungkin bisa mulai melihat lebih banyak sampah di trotoar. Sayangnya, banyak penyebabnya adalah wisatawan yang tidak terbiasa dengan kurangnya tempat sampah Jepang. Karena hal ini, alih-alih membawa pulang sampah, mereka justru meninggalkannya begitu saja di jalan. Tentu saja, kesalahannya tidak sepenuhnya berada pada turis. Namun, hal ini tetap membuat banyak penduduk mulai menjadi frustasi terhadap turis asing.

    Masalah di Arashiyama dan Tottori

    Salah satu tindakan paling memalukan lainnya dan menjadi ujung tombak permasalahan akhir-akhir ini, banyak dari turis asing memutuskan untuk mengabadikan nama mereka di hutan bambu terkenal di Kyoto (Arashiyama), dan merusak pemandangan bukit pasir Tottori yang juga terkenal. Kedua kasus itu menimbulkan kemarahan di Jepang, khususnya coretan di Arashiyama karena bambu tua itu selamanya hancur ketika orang mengukir nama mereka di atasnya. Secara keseluruhan, sekitar 100 bambu telah rusak di Arashiyama. Ini bukan sekadar masalah sepele seperti: ‘Ah, hanya bambu saja. Tinggal ditebang. Nanti ditanam lagi.’ Masalah terbesarnya adalah, karena bambu dihubungkan oleh akarnya, bambu yang sakit akhirnya dapat mempengaruhi banyak bambu lainnya. Hal ini dapat mengakibatkan pemotongan beberapa bambu dalam jumlah besar sebagai langkah untuk melestarikan hutan.

    Di Tottori, wisatawan menulis nama dan pesan mereka di bukit pasir, sepenuhnya mengabaikan aturan yang terang-terangan di pasang di tempat tersebut. Kelakuan buruk itu dapat dikaitkan dengan ketidaktahuan, tetapi beberapa turis mengabaikan tanda-tanda dan apa yang orang katakan kepada mereka.

    Etika di Kereta

    Masalah lain berkaitan dengan etiket saat di dalam kereta. Di Jepang, orang berbaris untuk memasuki kereta, membiarkan ruang di depan pintu kereta terbuka sehingga orang dapat turun dengan cepat sebelum mereka masuk. Tentu saja, selalu ada pegawai kantoran (salaryman) yang menganggap waktu mereka lebih penting dan dengan demikian berusaha untuk menerobos antrian. Namun, masalah yang diwujudkan oleh pegawai kantoran tersebut kian diperparah oleh wisatawan yang tidak mengikuti aturan. Ketika di Roma, lakukan seperti yang dilakukan orang Roma, bukan? Nah, beberapa pengunjung asing tampaknya tidak setuju dengan peribahasa ini.

    Baru-baru ini, beberapa turis Perancis yang mengunjungi Jepang untuk Piala Dunia Rugby membuat keributan di dalam kereta yang menciptakan kehebohan di Twitter setelah penduduk setempat mengeluh tentang perilaku memalukan para pengunjung. Mereka berpikir lebih jauh dan mengandai-andai tentang apa yang mungkin terjadi saat Olympic nanti?

    Selain itu, di Jepang bagian bawah kaki seseorang dianggap sangat kotor. Mungkin banyak dari Anda sudah tahu bahwa,ketika memasuki rumah Jepang, seseorang harus melepas sepatu mereka. Namun, banyak turis tanpa ada rasa malu malah meletakkan kaki mereka di bangku kereta, bahkan membiarkan anak-anak melompat ke sana dengan sepatu terpasang. Untungnya, lansia-lansia Jepang yang masih terbiasa menaiki transportasi umum di Jepang terkenal tanpa malu-malu dapat menegur penduduk setempat yang tidak sopan, dan tidak akan ragu untuk memarahi sekelompok wisatawan asing juga. Namun, ini seharusnya tidak perlu terjadi, dan pengunjung asing harus mengikuti norma sosial masing-masing negara.

    Pelecehan Terhadap Geisha dan Maiko

    Penduduk Kyoto telah mengeluh sejak lama karena cara wisatawan memperlakukan geisha dan maiko. Pelecehan yang terus-menerus mendorong kota untuk mengajar wisatawan yang mencolek geisha dan maiko, dan mengambil foto mereka tanpa persetujuan mereka adalah suatu tindakan tidak baik. Namun, ini tidak cukup.

    Karena itu, distrik Gion yang terkenal di Kyoto kini melarang foto di jalan pribadi.

    Yang paling membuat geram para wisatawan melecehkan geisha dan maiko adalah mereka melakukannya karena mereka melihat mereka sebagai orang yang mengenakan kostum. Bagi banyak wisatawan, melihat maiko dan geisha di Kyoto sama dengan melihat Mickey Mouse dan Donald Duck di Disneyland.

    Ada banyak artikel yang telah membedah masalah orang luar melihat Jepang sebagai sesuatu yang sangat berbeda sehingga pantas memperlakukan negara dan penduduknya sebagai sesuatu yang benar-benar asing, dan masalah saat ini di Gion menjadi salah satu penggambaran terhadap hal ini.

    Masalah lain yang ditemui di Gion dan yang menyebabkan pelarangan adalah turis juga merusak properti pribadi.

    Kita Semua Rugi

    Tentu saja, perilaku mengerikan semacam ini tidak terjadi secara eksklusif di Jepang. Artis-artis Instagram telah menjadi masalah besar di banyak kota-kota Eropa juga, dan berita dan laporan tentang penduduk lokal mencoba untuk melarang orang mengambil foto di tempat mereka tinggal karena mengganggu dari banyaknya jumlah wisatawan dan perilaku mereka mulai bermunculan di berita-berita.

     

    この投稿をInstagramで見る

     

    𝕴𝖓𝖉𝖔𝖓𝖊𝖊𝖏𝖆𝖍(@indoneejah)がシェアした投稿

    Salah satu hal terburuk tentang perilaku buruk orang-orang seperti ini adalah bahwa hal ini juga dapat memperkuat stereotip negatif dan xenophobia; dan orang asing yang tinggal di Jepang cukup sadar bagaimana hal-hal ini mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Tanyakan saja kepada orang asing yang telah melalui proses sewa apartemen dan menemui agen real estat, Anda mungkin akan mengetahui tentang istilah “Gaijin Filter” yang terkenal. Artinya, adalah bahwa jumlah properti yang tersedia untuk disewakan merosot begitu mereka mengetahui bahwa penyewanya adalah orang asing.

    Apa Yang Bisa Kita Lakukan?

    Rupanya, tanda-tanda tidak cukup; dan sayangnya, jika keadaan tidak berubah, pemerintah Jepang mungkin ingin mencoba menegakkan aturan dan denda yang lebih ketat dibanding sebelumnya. Jika orang-orang yang mengukir nama mereka di bambu Arashiyama telah didenda 500.000 yen dan dikirim ke penjara, Anda bertaruh tidak ada orang lain yang akan melakukan hal yang sama.

    Tidak jelas apa yang akan dilakukan Jepang di masa depan untuk mencoba memecahkan masalah yang disebabkan oleh beberapa wisatawan asing ini, tetapi yang jelas adalah bahwa tindakan saat ini terbukti tidak efektif; dan Jepang hanya bisa didorong sejauh ini sebelum kita melihat aturan dan larangan yang lebih ketat di masa mendatang

    *Featured Image by fmhmay on Twitter
    : fmhmay/