Hikikomori: Fenomena Orang-Orang yang Mengisolasi Diri

  • BUDAYA
  • SOSIAL
  • Jutaan orang muda di Jepang berpikir untuk bersembunyi di rumah mereka, bahkan kadang-kadang untuk beberapa dekade. Mengapa?

    Bagi Hide, masalah dimulai ketika ia harus berhenti sekolah. “Aku mulai menyalahkan diri sendiri dan orang tuaku juga menyalahkanku karena tidak pergi ke sekolah. Tekanan mulai menumpuk,” katanya.
    “Kemudian, perlahan, aku menjadi takut untuk pergi keluar dan ketakutan bertemu orang-orang. Dan kemudian aku tak bisa keluar rumah.”
    Perlahan, Hide melenyapkan semua komunikasi dengan teman-temannya dan akhirnya, orang tuanya. Untuk menghindari mereka, ia tidur selama siang hari dan bangun sepanjang malam, menonton TV.
    “Aku menyimpan semua emosi negatif dalam diriku,” katanya. “Keinginan untuk pergi keluar, kemarahan terhadap masyarakat dan orang tuaku, kesedihan karena memiliki kondisi ini, ketakutan akan apa yang akan terjadi di masa depan dan kecemburuan terhadap orang-orang yang memiliki kehidupan normal.”

    Hide telah menjadi “penyendiri” atau hikikomori.

    Di Jepang, hikikomori, istilah yang juga digunakan untuk mendeskripsikan orang-orang muda yang menyendiri, adalah sebuah kata yang diketahui semua orang. Menteri Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan Jepang mejelaskan bahwa hikikomori adalah orang-orang yang tidak ingin pergi keluar rumah dan dengan demikian, mengisolasi diri mereka dari masyarakat selama lebih dari enam bulan. Psikiater Tamaki Saito menjelaskan hikikomori sebagai “Sebuah kondisi yang telah menjadi masalah di umur 20-an akhir, yang melibatkan seseorang mengurung diri di rumahnya sendiri dan tidak berpartisipasi dalam kemasyarakatan selama enam bulan atau lebih, tapi masalah itu tampaknya tidak tidak memiliki masalah psikologis lain sebagai sumber utamanya.”

    Baru-baru ini, para peneliti menyarankan kriteria spesifik yang dibutuhkan untuk “mendiagnosa” hikikomori:

    1. Menghabiskan waktu dan hampir setiap hari tinggal di rumah.
    2. Sangat menghindari situasi-situasi sosial.
    3. Gejala-gejala yang sangat mengganggu rutinitas, aktivitas pekerjaan (atau akademik), atau aktivitas sosial atau hubungan orang tersebut.
    4. Melihat menyendiri sebagai ego-sintonik (istilah yang mengacu pada perilaku, nilai-nilai, dan perasaan yang sesuai dengan citra diri yang ideal dari seseorang)
    5. Durasi paling sedikit enam bulan.
    6. Tak ada kelainan mental lain yang menyebabkan penarikan diri dan menghindari sosialisasi.

    Walaupun tingkat fenomena bervariasi secara individual, dalam kasus-kasus paling ekstrim, banyak orang tetap mengisolasi diri selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun. Seringkali hikikomori dimulai dengan menolak pergi ke sekolah, atau futōkō (不登校) dalam bahasa Jepang.

    Yang memicu seorang laki-laki mengunci diri di kamarnya mungkin adalah suatu alasan yang relatif tidak berat misalnya, nilai jelek atau patah hati, namun penarikan diri itu sendiri dapat menjadi sumber trauma. Dan tekanan sosial yang kuat dapat menahan ia tetap dalam kondisi itu. Salah satu kekuatan itu adalah “sekentei”, yaitu reputasi seseorang dalam komunitas dan tekanan yang seseorang rasakan untuk membuat orang lain terkesan. Makin lama orang-orang hikikomori terpisah dari masyarakat, mereka makin sadar atas kegagalan sosial yang mereka alami. Mereka kehilangan semua harga diri dan kepercayaan diri yang mereka miliki dan kemungkinan untuk keluar rumah menjadi lebih menakutkan. Orang tua juga sadar atas posisi sosial mereka dan kerap menunggu berbulan-bulan sebelum meminta pertolongan ahli.