Bertambahnya Jumlah Kota-kota Mati di Jepang dan Alasannya

  • BUDAYA
  • SOSIAL
  • Dari luar, Jepang terlihat sebagai negara yang memiliki populasi padat di kota – kota metropolisnya, memiliki teknologi yang canggih dan biaya akomodasi yang setinggi langit. Tokyo adalah salah satu kota dengan populasi terpadat di seluruh dunia dengan penduduk yang mencapai lebih dari 13 juta orang. Namun, Jepang sendiri sedang menghadapi krisis populasi. Tahun lalu, jumlah populasi di Jepang turun sebanyak 270,000, begitu juga dengan jumlah angka kelahirannya. Jepang berada dalam posisi yang unik karena sepertiga dari populasinya akan menjadi pensiunan. Semakin banyak orang dari daerah-daerah pedesaan yang pindah ke kota besar untuk mencari pekerjaan. Hal ini membuat kota-kota di daerah pedesaan menjadi mati karena generasi muda yang meninggalkan kota tersebut dan generasi tua yang meninggal.

    Kota-kota mati

    Satu dari tujuh rumah di Jepang adalah rumah tanpa penghuni. Saya benar-benar terkejut saat mengetahuinya, karena seperti yang orang lain ketahui bahwa Jepang memiliki populasi yang sangat tinggi. Memang benar adanya Jepang memiliki kota metropolis terbesar di dunia, namun sekarang populasi Jepang menurun dalam jangka waktu 4 tahun berurut – urut. Ada beberapa faktor yang membuat orang-orang merasa ikut bertanggung jawab terhadap penurunan ini. Faktor yang pertama adalah angka kelahiran anak. Di Jepang, statistik menunjukkan bahwa setiap wanita rata-rata memiliki 1.4 anak. Jumlah ini tidak dapat menggantikan jumlah orang yang meninggal per tahunnya. Faktor kedua adalah imigrasi. Jika dihitung, Anda harus tinggal di Jepang lebih dari 3 bulan, namun untuk naturalisasi menjadi warga negara Jepang sangat sulit dan peraturan imigrasi juga ketat. Oleh karena itu, imigrasi tidak menambah banyak populasi di Jepang. Pada tahun 2000 sendiri, terjadi penurunan dengan total 1 juta orang.

    Mengapa?

    Sekarang Anda mungkin akan berpikir bahwa hal ini tidak akan berdampak besar. Faktor yang berpengaruh besar adalah rumah baru yang dibangun lebih banyak dari rumah lama yang dirobohkan. Dengan menurunnya 1 juta orang, tentu rumah yang dibutuhkan juga menjadi lebih sedikit. Sekarang 1 dari 7 properti di Jepang tidak dihuni. Uniknya jarang ada rumah-rumah bekas yang dijual di Jepang. Banyak orang yang lebih memilih untuk membeli tanah dan membangun rumah baru, jadi cara membeli rumah sangat berbeda di Jepang. Ini artinya ada ratusan ribu rumah yang kosong dan tidak dijual. Rumah-rumah ini menjadi rusak dan tidak enak dipandang mata bagi komunitas-komunitas yang masih tinggal di sana.